Refleksi Hari Nusantara 2025 di Tengah Bencana Sumatera: Menggali Persatuan dalam Mitigasi Bencana
Sumber Foto: Jurnal Gaya
Jurnal Nusantara

Refleksi Hari Nusantara 2025 di Tengah Bencana Sumatera: Menggali Persatuan dalam Mitigasi Bencana

Setiap tanggal 13 Desember, bangsa Indonesia merayakan Hari Nusantara, yang menjadi tonggak sejarah bagi negara kepulauan ini setelah diterapkannya Deklarasi Djuanda pada tahun 1957. Peringatan tersebut menegaskan bahwa lautan di Indonesia bukanlah pemisah, melainkan pemersatu daratan.

Namun, peringatan Hari Nusantara tahun 2025 terasa berbeda dan penuh duka, terutama bagi masyarakat di Sumatera. Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 telah menimbulkan kerugian yang sangat besar. Tragedi kemanusiaan ini telah merenggut hampir 1.000 jiwa dan menyebabkan kerusakan infrastruktur yang melumpuhkan, mulai dari jalan, jembatan, hingga jaringan listrik dan komunikasi.

Makna Persatuan dalam Penanggulangan Bencana

Hari Nusantara, yang mengedepankan konsep Wawasan Nusantara—kesatuan wilayah, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan—kini mendapatkan makna yang sangat relevan. Dalam situasi darurat ini, semangat persatuan dan kesatuan wilayah diuji dan dihidupkan kembali melalui aksi nyata.

Berbagai kementerian dan lembaga telah berkolaborasi untuk pemulihan, termasuk pemulihan koneksi telekomunikasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika yang mengerahkan Satelit SATRIA-1, serta mobilisasi logistik dan tenaga bantuan oleh TNI, Polri, dan BNPB. Langkah ini merupakan manifestasi modern dari Wawasan Nusantara, di mana jalur laut dan darat digunakan untuk menyalurkan bantuan dan mengembalikan konektivitas yang terputus.

Aspek Lingkungan dan Kearifan Lokal

Tragedi ini juga mengingatkan kita akan pentingnya aspek lingkungan dalam konsep Nusantara. Sejumlah ahli dan organisasi masyarakat sipil menilai bahwa kerusakan yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh Siklon Senyar, tetapi juga oleh kombinasi cuaca ekstrem dan kerentanan ekologis akibat degradasi hutan di wilayah hulu. Pembukaan lahan untuk pertambangan, perkebunan, dan pembangunan PLTA telah merusak Daerah Aliran Sungai (DAS) yang vital.

Makna Hari Nusantara perlu diperluas, tidak hanya mencakup kedaulatan atas air, tetapi juga kedaulatan atas keberlanjutan ekosistem darat dan laut. Konsep Nusantara yang ideal harus mencerminkan harmoni antara manusia dan alam. Indonesia kaya akan kearifan lokal yang telah terbukti efektif dalam mitigasi bencana, seperti rumah panggung yang adaptif terhadap gempa dan banjir, serta tradisi lisan Smong di Simeulue yang menyelamatkan banyak nyawa dari tsunami.

Membangun Ketahanan Nusantara

Di penghujung tahun yang penuh tantangan ini, Hari Nusantara seharusnya menjadi momentum untuk bertransformasi dari sekadar perayaan menjadi penguatan ketahanan nasional berbasis kebencanaan. Luasnya daerah yang terdampak bencana di Sumatera setara dengan Pulau Jawa, sehingga tantangan yang dihadapi adalah tantangan bagi seluruh bangsa.

Peringatan Hari Nusantara 2025 harus menjadi deklarasi ulang komitmen bangsa untuk menjaga tidak hanya kedaulatan teritorial, tetapi juga kedaulatan ekologis dan kemanusiaan. Membangun kembali Sumatera berarti membangun dengan prinsip kehati-hatian lingkungan dan menjadikan mitigasi bencana sebagai pilar utama dalam Wawasan Nusantara. Dengan demikian, persatuan yang telah diperjuangkan di lautan akan tetap kokoh di daratan yang rentan.