Perbedaan Puasa Ramadan dan Intermittent Fasting yang Perlu Diketahui
Sumber Foto: Harianjogja.com
Lifestyle

Perbedaan Puasa Ramadan dan Intermittent Fasting yang Perlu Diketahui

Maya Herawati

Ilustrasi makan sahur - berbuka puasa. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA —Perbedaan intermittent fasting dan puasa Ramadan sering menjadi perhatian karena keduanya sama-sama melibatkan periode menahan makan dan minum. Namun, tujuan, aturan pelaksanaan, serta dampak kesehatan dari kedua pola ini tidak sepenuhnya sama.

Intermittent fasting dikenal sebagai pola makan yang mengatur waktu konsumsi makanan dalam jam atau hari tertentu, kemudian diikuti periode puasa dengan asupan kalori sangat minim atau bahkan tanpa kalori sama sekali sehingga tubuh menggunakan cadangan energi yang tersimpan.

Advertisement

Pola makan ini berkembang dalam beberapa metode yang dapat dipilih sesuai kebutuhan dan kondisi tubuh, dengan prinsip utama memberikan jeda bagi tubuh dari asupan kalori. Metode yang umum digunakan antara lain pola makan selang sehari (alternate-day fasting) dengan makan normal satu hari dan pembatasan asupan pada hari berikutnya, metode 5:2 yang menerapkan makan normal selama lima hari dan pembatasan ketat pada dua hari dalam seminggu, serta time-restricted eating (TRE) yang membatasi waktu makan harian, misalnya puasa 16 jam dan makan dalam jendela delapan jam.

Meski banyak diterapkan sebagai strategi kesehatan atau pengendalian berat badan, puasa intermiten dapat menimbulkan efek samping pada sebagian orang, seperti rasa lelah berlebihan, pusing, sakit kepala, hingga perubahan suasana hati akibat perubahan pola makan dan kadar gula darah.

BACA JUGA

97 Kursi Kepsek Gunungkidul Kosong, 21 Kembali Jadi Guru

Bantul Siapkan Parkir Nontunai di 27 Titik Mulai Maret

Manfaat Kopi Hitam untuk Kesehatan Jantung, Ini Kata Dokter

Pada penderita diabetes, pola ini juga berpotensi memengaruhi kestabilan gula darah sehingga memerlukan pengawasan medis. Efek jangka panjang intermittent fasting sendiri masih terus diteliti dan dapat berbeda pada setiap individu tergantung kondisi kesehatan serta pola makan yang dijalani.

Berbeda dengan intermittent fasting, puasa Ramadan merupakan ibadah wajib bagi umat Muslim yang memenuhi syarat dengan menahan diri dari makan, minum, serta hal-hal yang membatalkannya sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Bermakna Menahan Diri

Mengutip laman resmi Kementerian Agama (Kemenag), Muhammad Arsyad al-Banjari dalam Sabilal Muhtadin menjelaskan puasa bermakna menahan diri (imsak) dari segala sesuatu yang membatalkannya dalam rentang waktu tertentu. Sementara Nawawi al-Bantani dalam Maraqil Ubudiyah menekankan dimensi spiritual puasa, yakni menahan seluruh anggota badan dari perbuatan yang dibenci Tuhan.

Puasa Ramadan memiliki pola waktu yang tetap setiap hari selama satu bulan penuh, sekitar 29–30 hari dalam kalender Hijriah. Waktu berpuasa dimulai sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan makan hanya diperbolehkan saat sahur sebelum fajar dan berbuka setelah azan Magrib.

Dengan demikian, puasa Ramadan tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik berupa menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi sarana pengendalian diri, penguatan ketakwaan, serta pembentukan karakter disiplin dan empati sosial.

Dari sisi kesehatan, intermittent fasting dan puasa Ramadan sama-sama melibatkan periode tanpa asupan kalori yang dapat memengaruhi metabolisme tubuh. Tubuh akan menggunakan cadangan energi serta mengalami penyesuaian dalam pengaturan gula darah dan hormon.

Pada puasa Ramadan, dampak kesehatan sangat dipengaruhi pola makan saat sahur dan berbuka. Jika konsumsi makanan berlebihan atau tinggi lemak dan gula, manfaat metabolik dapat berkurang. Sebaliknya, apabila dijalankan dengan pola makan seimbang, puasa Ramadan berpotensi membantu mengontrol berat badan dan memperbaiki kebiasaan makan. Prinsip berhenti sebelum kenyang dan menjaga keseimbangan asupan juga sejalan dengan anjuran kesehatan modern.

Baik intermittent fasting maupun puasa Ramadan memerlukan penyesuaian sesuai kondisi kesehatan masing-masing individu. Konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap disarankan, terutama bagi penderita penyakit kronis, ibu hamil, atau individu yang memiliki gangguan pola makan, sehingga perbedaan intermittent fasting dan puasa Ramadan dapat dipahami sekaligus dijalankan secara aman bagi tubuh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Tag: ramadan, Tips Kesehatan

Advertisement

Berita Terkait

Cara Mendapatkan Tidur Berkualitas, Mulai dari Pagi Hari

10 Kontingen Ramaikan Lomba Gema Takbir Jogja 2026, Rebut Piala Sultan

Berita Lainnya

Advertisement

Berita Terbaru

Tutup Galon Sulit Dibuka, Ini Cara Aman Membuka Tanpa Cedera

Leisure | 8 hours ago

Kenapa Kebaya Selalu Dipakai Saat Hari Kartini? Ini Sejarahnya

Leisure | 10 hours ago

Ucapan Hari Kartini 2026, Cocok untuk Status Medsos

Leisure | 11 hours ago

Empat Momen Penting Jatuh pada Tanggal 20 April

Leisure | 12 hours ago

Advertisement

Lima Film Baru Ramaikan Bioskop Akhir April 2026

Leisure | 12 hours ago

11 Karakter Pria yang Disukai Wanita Cerdas

Leisure | 14 hours ago

Zodiak Hari Ini, Energi Tenang Bawa Perubahan Besar

Leisure | 15 hours ago

Bikin Baper! Justin Bieber Peluk Billie Eilish di Panggung Coachella

Leisure | 1 day ago

Sinopsis Film The Magic Faraway Tree

Leisure | 1 day ago

Advertisement

Cara Mendapatkan Tidur Berkualitas, Mulai dari Pagi Hari

Leisure | 1 day ago

Update Harga Emas Hari Ini dan Tips Investasinya

Leisure | 1 day ago

Pare Si Pahit Kaya Manfaat, Baik untuk Gula Darah

Leisure | 2 days ago

Waspada! Rutinitas Pagi Ini Picu Risiko Penyakit Jantung

Leisure | 2 days ago

Studi Ungkap Vape Bisa Hantarkan Logam Beracun ke Paru-Paru

Leisure | 2 days ago

Advertisement

Cara Cegah Batuk Pilek Saat Cuaca Ekstrem Menurut Kemenkes

Leisure | 2 days ago