Pentingnya Pembuktian Dampak Komunikasi dalam PRIA 2026 Kategori Komunikasi SR
Pada ajang PR INDONESIA Awards (PRIA) 2026 yang berlangsung dari 5 hingga 9 Januari 2026, dewan juri kategori Komunikasi Social Responsibility (SR) menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam praktik komunikasi publik. Dalam wawancara setelah penjurian, juri menegaskan bahwa para praktisi humas tidak cukup hanya melaporkan kegiatan seremonial, tetapi harus mampu membuktikan dampak nyata dari komunikasi yang dilakukan.
Asmono Wikan, pendiri dan CEO PR INDONESIA Group, dalam pembukaan penjurian menyatakan bahwa fokus penilaian dalam kategori Komunikasi SR bukan terletak pada besar kecilnya donasi yang diberikan perusahaan, melainkan pada strategi komunikasi yang diterapkan. "PRIA adalah sebuah ajang kompetisi tentang komunikasi," tegas Asmono.
CEO Kiroyan Partners, Verlyana Hitipeuw, juga menyoroti adanya kerancuan di kalangan peserta antara keberhasilan program lapangan dan keberhasilan strategi komunikasi. Menurutnya, banyak peserta yang masih terjebak pada teknis pemberdayaan masyarakat tanpa mengaitkannya dengan aspek komunikasi yang terukur. "Komunikasi yang terukur adalah kunci menjaga reputasi keberlanjutan," ujarnya.
Sementara itu, Maria R. Nindita Radyati, pendiri Institute for Sustainability and Agility (ISA), menekankan pentingnya penyajian data yang akurat dan kontekstual. Ia menyatakan bahwa narasi kualitatif yang tidak didukung angka yang valid tidak lagi relevan bagi investor dan pemangku kepentingan. Maria mendorong praktisi humas untuk memahami metrik ESG (Environmental, Social, Governance) guna mendukung transparansi informasi perusahaan.
Melina Karamoy, seorang ahli dalam bidang keberlanjutan dan komunikasi, menambahkan bahwa peran humas kini semakin luas, dengan tuntutan untuk menjadi agen perubahan yang melek teknologi digital dan paham isu keberlanjutan. Namun, ia juga mencatat masih ada kesenjangan antara ekspektasi juri dan realitas presentasi peserta.
Veve menutup diskusi dengan menegaskan bahwa humas harus berpikir lebih etis dan berani mengangkat realitas yang ada. "Tim PR atau tim komunikasi korporat tidak lagi hanya menjadi penyampai pesan, tetapi juga harus bisa menjadi penjaga makna dan konteks," pungkasnya.




