Konsumsi Serat Tinggi Perpanjang Usia dan Jaga Kesehatan Otak
Sumber Foto: TIMES Indonesia
Lifestyle

Konsumsi Serat Tinggi Perpanjang Usia dan Jaga Kesehatan Otak

JAKARTA – Serat kerap dipandang sebatas penunjang kesehatan pencernaan. Padahal, manfaat serat untuk kesehatan jauh lebih luas. Sejumlah riset menunjukkan konsumsi serat cukup dapat memperpanjang usia, menekan risiko penyakit kronis, hingga menjaga fungsi kognitif.

Defisit Serat Masih Tinggi

Data menunjukkan mayoritas orang dewasa belum memenuhi kebutuhan serat harian. Rata-rata konsumsi bahkan kurang dari setengah rekomendasi, yakni sekitar 25–30 gram per hari.

Padahal, tinjauan ilmiah menemukan kelompok dengan asupan serat tertinggi memiliki risiko kematian 15–30 persen lebih rendah dibanding mereka yang mengonsumsi paling sedikit. Cukup serat juga berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung, stroke, diabetes tipe 2, dan kanker usus besar.

Serat, Mikrobioma, dan Kesehatan Otak

Serat tidak dicerna sepenuhnya, melainkan difermentasi oleh bakteri baik di usus. Proses ini menghasilkan asam lemak rantai pendek, termasuk butirat, yang membantu menjaga lapisan usus dan mengurangi peradangan.

Menurut Karen Scott dari Rowett Institute, University of Aberdeen, peningkatan asupan serat menjadi salah satu perubahan diet paling berdampak bagi kesehatan kognitif. Semakin banyak serat dikonsumsi, semakin tinggi produksi butirat yang berperan dalam mempertahankan fungsi otak.

Sebaliknya, kekurangan serat kini dinilai sebagai salah satu faktor risiko utama gangguan kesehatan berbasis pola makan.

Cara Sederhana Meningkatkan Asupan

Sumber serat mudah ditemukan pada biji-bijian utuh, buah, sayur, kacang, dan polong-polongan. Mengganti produk olahan dengan versi gandum utuh serta menambahkan buah dan sayur di setiap waktu makan menjadi langkah praktis yang dapat memberi dampak jangka panjang.

Di tengah meningkatnya kasus penyakit metabolik dan penurunan kognitif global, memperbaiki pola makan dengan meningkatkan konsumsi serat merupakan intervensi sederhana namun signifikan. (*)