Ketegangan Meningkat: Ancaman Perang Iran-Amerika Semakin Dekat
Sumber Foto: Albalad.co
Internasional

Ketegangan Meningkat: Ancaman Perang Iran-Amerika Semakin Dekat

kisah

Semakin banyak bukti menunjukkan perang sudah di ambang pintu.

Axios

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump lebih dekat dengan perang besar di Timur Tengah daripada yang disadari sebagian besar warga Amerika. Perang itu bisa segera dimulai.

Di sela pertemuan perdana Dewan Perdamaian kemarin di Ibu Kota Washington DC, dia bilang akan memutuskan dalam 10 atau 15 hari ke depan apakah akan melanjutkan diplomasi dengan Iran atau memerintahkan serangan militer.

"Sekarang kita mungkin harus melangkah lebih jauh atau mungkin tidak," katanya. "Mungkin kita akan membuat kesepakatan (dengan Iran). "Anda akan mengetahuinya dalam 10 hari ke depan."

Beberapa jam kemudian, Trump mengatakan kepada wartawan di Air Force One dalam perjalanan ke Georgia, "Sepuluh hari akan cukup waktu. Sepuluh, 15 hari, hampir maksimal."

Di tengah ancaman Amerika untuk melancarkan kampanye militer, Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amir Said Iravani mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dan kepada anggota Dewan Keamanan PBB yang memperingatkan tentang pembalasan Iran.

"Dalam keadaan seperti itu, semua pangkalan, fasilitas, dan aset pasukan musuh di kawasan tersebut akan menjadi sasaran sah dalam konteks respons pertahanan Iran," tulisnya. "Amerika Serikat akan memikul tanggung jawab penuh dan langsung atas segala konsekuensi tidak terduga dan di luar kendali."

Menurut beberapa sumber kepada situs berita Axios, operasi militer Amerika di Iran kemungkinan menjadi kampanye besar-besaran selama berminggu-minggu, bakal lebih mirip perang sungguhan daripada operasi tepat sasaran bulan lalu di Venezuela, menurut beberapa sumber.

Sumber-sumber itu mencatat kemungkinan besar akan menjadi kampanye gabungan Amerika-Israel jauh lebih luas cakupannya – dan lebih mengancam eksistensi rezim – daripada perang 12 hari dipimpin Israel Juni tahun lalu, akhirnya diikuti Amerika untuk menghancurkan fasilitas nuklir bawah tanah Iran.

Perang semacam ini akan memiliki pengaruh dramatis pada seluruh kawasan Timur Tengah dan implikasi besar bagi tiga tahun tersisa masa kepresidenan Trump.

Dengan perhatian Kongres dan publik terfokus pada hal lain, hanya sedikit perdebatan publik tentang apa yang bisa menjadi intervensi militer Amerika paling penting di Timur Tengah setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir.

Trump hampir menyerang Iran awal Januari lalu atas tewasnya demonstran oleh rezim tersebut.

Namun ketika peluang itu berlalu, pemerintahan beralih ke pendekatan dua jalur: pembicaraan nuklir dipadukan dengan peningkatan kekuatan militer besar-besaran.

Dengan menunda dan mengerahkan begitu banyak kekuatan, Trump telah meningkatkan ekspektasi tentang seperti apa operasi itu jika kesepakatan tidak dapat dicapai.

Dan saat ini, kesepakatan tampaknya tidak mungkin terjadi.

Penasihat Trump, Jared Kushner dan Steve Witkoff, bertemu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi selama tiga jam di Kota Jenewa, Swiss, Selasa lalu.

Meski kedua pihak mengatakan pembicaraan mengalami kemajuan, kesenjangan masih lebar dan para pejabat Amerika tidak optimistis untuk menutupnya.

Wakil Presiden Amerika JD Vance mengatakan kepada Fox News, pembicaraan berjalan baik dalam beberapa hal. "(Tetapi) dalam hal lain sangat jelas presiden telah menetapkan beberapa garis merah belum bersedia diakui dan diatasi oleh Iran," tuturnya.

Vance menjelaskan walau Trump menginginkan kesepakatan, dia dapat menentukan diplomasi sudah mencapai akhir alaminya.

Armada Trump telah bertambah hingga mencakup dua kapal induk, selusin kapal perang, ratusan jet tempur, dan beberapa sistem pertahanan udara. Sebagian dari kekuatan tempur itu masih dalam perjalanan.

Lebih dari 150 penerbangan kargo militer Amerika telah mengangkut sistem persenjataan dan amunisi ke Timur Tengah. Hanya dalam 24 jam terakhir, 50 jet tempur lainnya, F-35, F-22, dan F-16, menuju ke wilayah tersebut.

Beberapa sumber mengungkapkan permusuhan dengan Iran sudah berlangsung begitu lama sehingga banyak orang Amerika mungkin sudah mati rasa. Perang bisa datang lebih cepat dan jauh lebih besar ketimbang disadari kebanyakan orang.

Pengembangan militer dan retorika Trump membuatnya sulit mundur tanpa konsesi besar dari Iran terkait program nuklirnya.

Itu bukan sifat Trump dan para penasihatnya tidak menganggap pengerahan semua perangkat keras itu sebagai gertakan.

Dengan Trump, apa pun bisa terjadi. Tetapi semua tanda menunjukkan dia akan menekan pelatuk jika pembicaraan gagal.

Pemerintah Israel – mendorong skenario maksimalis menargetkan perubahan rezim serta program nuklir dan peluru kendali Iran – sedang mempersiapkan skenario perang dalam beberapa hari ke depan, menurut dua pejabat Israel.

Beberapa sumber Amerika mengatakan kepada Axios, Amerika mungkin membutuhkan lebih banyak waktu. Senator Lindsey Graham bilang serangan masih bisa terjadi beberapa minggu lagi. Tetapi yang lain mengatakan jangka waktunya bisa lebih singkat.

"Bos sudah muak. Beberapa orang di sekitarnya memperingatkannya untuk tidak berperang dengan Iran, tetapi saya pikir ada kemungkinan 90 persen kita akan melihat aksi militer dalam beberapa minggu ke depan," kata seorang penasihat Trump.

Para pejabat Amerika mengatakan setelah pembicaraan Selasa lalu, Iran perlu kembali dengan proposal terperinci dalam dua minggu.

Pada 19 Juni tahun lalu, Gedung Putih menetapkan jangka waktu dua minggu bagi Trump untuk memutuskan antara pembicaraan lebih lanjut atau serangan. Tiga hari kemudian, dia meluncurkan Operasi Midnight Hammer.

Tidak ada bukti terobosan diplomatik dengan Iran akan segera terjadi. Namun semakin banyak bukti menunjukkan perang sudah di ambang pintu.