Kemeriahan Berburu Takjil di Pusdai Bandung Selama Ramadhan
BANDUNG, KOMPAS.com - Menjelang azan magrib, kawasan Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai) di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jawa Barat, berubah menjadi lautan manusia. Saban bulan Ramadhan, aroma gorengan yang menyeruak dan deretan motor di tepi jalan menjadi pemandangan ikonik di lokasi ini.
Suasana riuh namun hangat membuat warga, baik dari sekitar masjid maupun luar wilayah, sengaja datang ke kawasan Pusdai Bandung untuk berburu penganan berbuka puasa favorit atau yang kini populer dengan istilah " war takjil".
Di antara kerumunan itu, Nuraeni (22), warga Cihapit, tampak sibuk memilih menu berbuka bersama adiknya, Jumat (20/2/2026). Perempuan yang akrab disapa Nur itu mengaku rutin berburu takjil di lokasi tersebut, terutama saat hari libur.
"Berangkat dari rumah sekitar jam 16.00 WIB, kadang jam 17.00 WIB sore. Sama adik atau juga kadang sama teman rumah," ucap Nur saat ditemui Kompas.com di lokasi.
Habiskan Rp 50 Ribu untuk Berburu Takjil
Suasana berburu takjil di kawasan Masjid Pusdai, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (20/2/2026) sore, dipadati warga yang antre membeli aneka gorengan dan minuman menjelang waktu berbuka puasa.
Dengan membawa uang Rp 50.000, Nur bisa membawa pulang aneka makanan dan minuman. Pilihannya beragam, mulai dari gorengan, sop buah, hingga pentol isi keju seharga Rp 10.000 per porsi.
Bagi Nur, berburu takjil di Pusdai bukan sekadar soal mengisi perut. Suasana ramai dan interaksi antarwarga justru menjadi daya tarik tersendiri yang ia nikmati, meski harus bersabar mengantre cukup lama.
"Ramai banget, harus antre. Tapi seru, banyak orang. Kadang ketemu teman kerja atau teman sekolah dulu," katanya.
Meski harus mengantre hingga 15 menit untuk seporsi makanan, Nur mengaku tetap menikmatinya. Ia menilai pilihan makanan di Pusdai sangat lengkap, mulai dari mochi dingin hingga jajanan yang jarang ditemui di tempat lain dengan harga terjangkau.
Namun, ia tak menampik bahwa kepadatan pengunjung membuat lahan parkir menjadi tantangan utama. Belum lagi arus lalu lintas yang tersendat akibat kepulangan pekerja kantoran yang bertepatan dengan jam berburu takjil.
Berkah Ramadhan bagi Pedagang Gorengan
Sisi lain dari kemeriahan ini adalah berkah bagi para pedagang musiman, salah satunya Tati. Penjual gorengan ini mengaku selalu membuka lapaknya di kawasan Pusdai setiap kali bulan Ramadhan tiba.
Tati mulai bersiap sejak pukul 14.00 WIB, sementara pembeli biasanya mulai menyerbu lapaknya menjelang pukul 16.30 WIB. Menu yang ia tawarkan cukup beragam, mulai dari risol hingga lumpia.
"Alhamdulillah keuntungannya, setahun sekali jualan disini. Yang belinya banyak yang buat buka puasa," tuturnya.
Dalam sehari, Tati mengaku bisa meraup omzet sekitar Rp 300.000 hingga Rp 400.000, tergantung pada tingkat keramaian pembeli. Keuntungan ini menjadi tambahan penghasilan yang sangat berarti bagi para pedagang kecil di bulan suci ini.




