Kemajuan Strategi Public Relations di PRIA 2026: Sebuah Analisis
Sumber Foto: Humas Indonesia
Catatan Indonesia

Kemajuan Strategi Public Relations di PRIA 2026: Sebuah Analisis

JAKARTA, HUMASINDONESIA.ID – Dewan juri PR INDONESIA Awards (PRIA) 2026 untuk kategori Departemen PR dan Program PR menyoroti kemajuan signifikan dalam kualitas strategi dan pemahaman peserta mengenai peran public relations (PR) dalam pengelolaan reputasi organisasi. Kelima juri sepakat bahwa PR kini telah bertransformasi menjadi fungsi yang holistik, mencakup pemahaman bisnis, teknologi, data, dan dinamika sosial.

Asmono Wikan, CEO PR INDONESIA Group dan salah satu juri, menyatakan bahwa peningkatan ini terlihat dari banyaknya program PR yang disusun secara berkelanjutan. Ia mengapresiasi mayoritas peserta yang telah mengadopsi kerangka pengukuran global, seperti AMEC Framework. Namun, Asmono juga mencatat bahwa masih ada kekurangan dalam metode kampanye, terutama dalam hal kebaruan dari objektif hingga pengukuran.

Magdalena Wenas, President of PR Society, menambahkan bahwa sekitar 85 persen peserta PRIA 2026 menunjukkan kesiapan yang matang. Ia menyoroti benang merah antara objektif, strategi, dan evaluasi yang lebih jelas dibandingkan tahun sebelumnya.

Implementasi Praktik Strategis

Associate Professor di LSPR Institute of Communication and Business, Janet Maria Pinariya, melihat PRIA 2026 sebagai momentum positif bagi perkembangan profesi PR di Indonesia. Janet mencatat bahwa peserta semakin memahami peran strategis PR dan mengangkat isu-isu organisasi yang relevan dengan konteks sosial. Ia menekankan bahwa program PR harus dirancang secara strategis dengan tujuan yang jelas, pemetaan pemangku kepentingan yang tepat, indikator kinerja yang relevan, dan evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Harry Deje, COO Burson Indonesia, mengungkapkan rasa senangnya melihat peningkatan jumlah dan kualitas submission tahun ini. Menurutnya, ide, struktur, implementasi, dan pengukuran peserta semakin matang. Ia juga mengamati bahwa banyak insan PR muda yang tampil percaya diri dan berperan strategis di organisasi. Namun, Harry mengingatkan bahwa masih ada peserta yang memandang PR secara parsial dan belum sepenuhnya holistik.

Sementara itu, M. KH. Rahman Ridhatullah, Business Strategy Director at Trisaska Komunika, mengingatkan peserta bahwa program PR tidak terpisah dari kebijakan dan strategi bisnis. Ia menekankan pentingnya menjawab persoalan konkret yang dihadapi organisasi dan menyelaraskan program PR dengan strategi bisnis serta tantangan reputasi aktual.