Investasi Kesehatan: Pentingnya Nabung Otot Sejak Usia Muda
Sumber Foto: Radar Tuban
Lifestyle

Investasi Kesehatan: Pentingnya Nabung Otot Sejak Usia Muda

Jurnal Indonesia - RADARTUBAN – Tren diet ketat demi menurunkan angka timbangan masih banyak dilakukan masyarakat, khususnya perempuan.

Padahal, penurunan berat badan secara drastis tanpa memperhatikan komposisi tubuh justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang.

Dokter spesialis gizi klinik Diana Suganda menegaskan bahwa diet seharusnya dipahami sebagai pengaturan pola makan yang dapat dijalani secara konsisten sepanjang hidup, bukan sekadar program singkat untuk menurunkan berat badan.

Padahal, tubuh tetap membutuhkan kalori dasar yang dikenal sebagai Basal Metabolic Rate (BMR) untuk menjalankan fungsi organ secara normal.

Jika asupan kalori ditekan terlalu rendah, tubuh akan memasuki kondisi power saving mode, yaitu mekanisme penghematan energi yang justru membuat metabolisme melambat dan berat badan sulit turun.

“Diet itu mindset-nya harus yang bisa kita lakukan jangka panjang, bukan program tiga atau empat bulan lalu selesai,” ujarnya.

Pentingnya ‘Nabung Otot’ Sejak Dini

Salah satu poin penting yang disampaikan dr. Diana adalah pentingnya latihan beban atau weight training. Banyak perempuan khawatir tubuhnya akan menjadi terlalu berotot jika rutin mengangkat beban.

Namun menurutnya, kekhawatiran tersebut tidak perlu terjadi karena otot justru berfungsi sebagai mesin pembakar kalori yang efektif.

Ia menjelaskan bahwa setelah usia 35 tahun, massa otot manusia akan berkurang sekitar 1 persen setiap tahun secara alami. Karena itu, membangun dan menjaga massa otot sejak usia muda menjadi investasi penting bagi kesehatan.

Selain membantu menjaga berat badan, otot juga berperan dalam mencegah berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes serta pengeroposan tulang saat memasuki masa menopause.

Mindful Eating Lebih Baik dari Cheating Day

Dalam kesempatan tersebut, dr. Diana juga menyoroti istilah cheating day yang sering membuat seseorang merasa bersalah setelah mengonsumsi makanan favorit.

Ia lebih menyarankan konsep mindful eating, yaitu makan dengan kesadaran penuh tanpa menganggap makanan sebagai sesuatu yang “haram” atau “boleh”.

Menurutnya, seseorang tetap boleh menikmati makanan seperti kue atau camilan, asalkan porsinya terkontrol dan tetap kembali pada pola makan sehat.

Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibandingkan menahan diri terlalu lama lalu makan berlebihan di waktu tertentu.

Ibu Jadi Kunci Pola Hidup Sehat Keluarga

Sebagai penutup, dr. Diana menekankan bahwa seorang ibu memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan hidup sehat dalam keluarga.

Apa yang disediakan di meja makan maupun di dalam kulkas akan memengaruhi kebiasaan makan anak-anak.

Jika anak terbiasa melihat orang tuanya mengonsumsi makanan sehat dan rutin berolahraga, mereka akan menganggap gaya hidup tersebut sebagai sesuatu yang normal.