Gubernur Ansar Paparkan Sejarah Pulau Penyengat dalam Program Jurnal Nusantara
Jurnal Indonesia - Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menjelaskan peran penting Pulau Penyengat sebagai pusat peradaban Melayu dan sebagai asal-usul Bahasa Indonesia dalam program Jurnal Nusantara di Kompas TV.
Awal Kejadian
Pulau Penyengat dikenal bukan hanya sebagai destinasi wisata sejarah, melainkan juga sebagai kawasan yang memiliki jejak peradaban Melayu yang memengaruhi perjalanan bangsa Indonesia. Dulu, pulau ini menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Riau-Lingga, yang mencakup wilayah Riau, Lingga, Johor, Pahang, hingga Singapura.
Perkembangan
Gubernur Ansar menjelaskan asal nama Pulau Penyengat, yang berasal dari cerita masyarakat tentang serangan lebah terhadap nelayan yang berhenti di pulau tersebut. Selain itu, pulau ini juga dikenal sebagai Pulau Mas Kawin, hadiah Sultan Mahmud Syah III untuk permaisurinya, Engku Puteri Raja Hamidah. Saat ini, terdapat 46 situs cagar budaya di Pulau Penyengat, termasuk Masjid Sultan Riau yang menjadi simbol kecerdasan arsitektur Melayu. Pulau ini juga terkenal dengan tradisi literasi yang kuat sejak abad ke-19, di mana percetakan pertama berdiri pada tahun 1886. Raja Ali Haji, tokoh besar dari pulau ini, berkontribusi melalui karya-karyanya yang penting bagi perkembangan bahasa Melayu.
Kondisi Terakhir
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sedang membangun Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, sebagai upaya melestarikan sejarah dan memperkuat posisi pulau tersebut sebagai pusat edukasi dan budaya. Monumen ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal, serta menjadi warisan budaya bagi generasi mendatang.




