Cinta dan Pengorbanan Sahabat Nabi di Perang Badar
Sumber Foto: RRI.co.id
Internasional

Cinta dan Pengorbanan Sahabat Nabi di Perang Badar

RRI.CO.ID, Malang - Dalam lanjutan kajian Mutiara Pagi Pro 1 RRI Malang, Sabtu (21/2/2026), Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Malang, Ustadzah Lailatul Fithriyah A., S.H.I., M.Pd.I. mengisahkan peristiwa menyentuh yang terjadi saat Perang Badar.

Kala itu umat Islam tengah berbaris menghadapi musuh. Nabi Muhammad menginspeksi pasukan sambil menggenggam tongkat. Beliau melihat seorang sahabat bernama Sawad bin Ghaziyyah berdiri agak melenceng dari barisan.

Rasulullah menekan perut Sawad dengan tongkatnya agar ia meluruskan posisi. Sawad kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah menyakitiku, sementara Allah mengajarkan keadilan. Izinkan aku menuntut balas.”

Tanpa ragu, Rasulullah menyingkap perutnya dan mempersilakan Sawad membalas. Namun yang dilakukan Sawad justru di luar dugaan. Ia memeluk dan mencium perut Rasulullah.

Ketika ditanya apa yang mendorongnya melakukan hal tersebut, Sawad menjawab bahwa Rasulullah hadir ke dunia sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ia berkata, “Jika aku terbunuh di Perang Badar ini, aku ingin kulitku menyentuhmu, ya Rasulullah.”

Begitu dalamnya cinta para sahabat kepada Nabi. Bahkan ada sahabat bernama Abu Mahdzurah yang tidak mencukur rambutnya karena pernah diusap oleh Rasulullah. Ia merasa bagian tubuh yang pernah disentuh Nabi adalah kemuliaan yang tidak ingin dihilangkan.

Kisah ini, menurut Ustadzah Lailatul Fithriyah, menunjukkan cinta mendalam para sahabat. Bahkan ada sahabat seperti Abu Mahdzurah yang tidak mencukur sebagian rambutnya karena pernah diusap oleh Rasulullah.

“Kecintaan itu bukan sekadar ungkapan, tetapi diwujudkan dalam pengorbanan dan penghormatan yang luar biasa,” pungkasnya.