Tebas: Barcelona Tak Suap Wasit, Kasus Negreira Terus Berlanjut
Presiden LaLiga, Javier Tebas, kembali menyuarakan keyakinannya bahwa FC Barcelona tidak pernah melakukan pembayaran kepada wasit untuk memengaruhi hasil pertandingan. Pernyataan tegas ini muncul di tengah berlanjutnya penyelidikan hukum atas ‘ Kasus Negreira ‘, skandal yang telah mengguncang sepak bola Spanyol selama lebih dari tiga tahun.
Dalam sebuah wawancara dengan ABC, Tebas menolak narasi yang menyebutkan adanya suap wasit, menegaskan bahwa fakta harus dinilai secara objektif oleh sistem peradilan pidana. Ia juga menekankan bahwa LaLiga adalah pihak pertama yang melaporkan kasus ini ke kejaksaan, bukan Real Madrid, dan akan terus bertindak sesuai hukum.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Latar Belakang Kasus Negreira
Kasus Negreira berpusat pada dugaan pembayaran yang dilakukan FC Barcelona kepada Jose Maria Enriquez Negreira, mantan wakil presiden Komite Teknis Wasit (CTA) Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF). Pembayaran ini, yang dilakukan antara tahun 2001 hingga 2018, mencapai total sekitar 7,2 juta hingga 8,4 juta euro kepada perusahaan milik Negreira, Dasnil 95 SL dan Nilsad SCP.
Barcelona sendiri selalu membantah tuduhan suap, menyatakan bahwa dana tersebut merupakan biaya untuk laporan teknis mengenai wasit dan observasi pemain. Negreira juga membantah disuap untuk memengaruhi keputusan, namun ia pernah menyatakan bahwa Barcelona membayarnya untuk memastikan “netralitas dalam arbitrasi”.
Perkembangan Hukum Terkini
Meskipun pada Mei 2024 pengadilan Spanyol sempat menolak tuduhan “suap pejabat” karena Negreira tidak dianggap sebagai pejabat publik di bawah hukum Spanyol, investigasi terus berlanjut dengan tuduhan korupsi olahraga. Pada Oktober 2025, Barcelona secara resmi dipanggil ke pengadilan untuk menyerahkan dokumen asli, termasuk kontrak, foto, atau video, sebagai bukti bahwa pembayaran tersebut memang untuk laporan teknis.
Beberapa tokoh penting juga telah atau dijadwalkan untuk memberikan kesaksian. Mantan presiden Joan Gaspart hadir pada 6 Februari 2026, sementara wakil presiden Barcelona Elena Fort dijadwalkan pada 27 Januari 2026. Selain itu, Joan Laporta, Ernesto Valverde, dan Luis Enrique juga dijadwalkan hadir di pengadilan pada 12 Desember 2025. Menariknya, status hukum Joan Laporta sempat dibatalkan setelah tim hukumnya berhasil meyakinkan hakim bahwa tindakannya telah kedaluwarsa secara yuridis.
Keterlibatan Real Madrid dan Penolakan Permintaan Audit
Real Madrid, rival abadi Barcelona, menjadi salah satu pihak yang paling agresif menyoroti kasus ini dan bertindak sebagai jaksa penuntut swasta dalam penyelidikan. Namun, pada Januari 2026, permintaan formal Real Madrid untuk mengakses seluruh audit dan laporan keuangan Barcelona dari tahun 2010 hingga 2021 ditolak oleh hakim. Hakim Alejandra Gil Lima menyatakan bahwa laporan ekonomi yang diminta Real Madrid tidak relevan untuk penyelidikan kasus dugaan penyuapan yang bertujuan mendapatkan keuntungan kompetitif dalam pertandingan sepak bola.
Tebas juga mengecam upaya mengaitkan setiap keputusan wasit yang merugikan Real Madrid dengan skandal Negreira, menyebut argumentasi tersebut tidak memiliki landasan fakta yang kuat.
Potensi Sanksi dan Harapan Klub
Mengenai potensi hukuman, Javier Tebas pada Maret 2025 pernah menjelaskan bahwa jika Barcelona terbukti bersalah, sanksi yang akan diberikan kemungkinan besar berupa penalti finansial, bukan degradasi. Hal ini karena adanya batas waktu penuntutan tiga tahun dalam hukum olahraga. Kasus ini, yang juga diselidiki oleh UEFA sejak Maret 2023, disebut oleh Presiden UEFA Aleksander Čeferin sebagai “salah satu yang paling serius” yang pernah ia lihat.
Hingga saat ini, proses hukum masih terus berjalan, dan Barcelona berharap proses ini bisa segera tuntas agar klub dapat kembali fokus sepenuhnya pada performa di lapangan dan menutup bab kelam dalam sejarah mereka.




