Tantangan Meningkat bagi Komunitas Pasifika di Selandia Baru
Sumber Foto: Jubi Papua
Sosial

Tantangan Meningkat bagi Komunitas Pasifika di Selandia Baru

Jurnal Indonesia - Jayapura, Jubi – Dua set data terbaru yang dirilis pekan ini menggambarkan situasi yang memprihatinkan terkait meningkatnya tantangan yang dihadapi Komunitas Pasifik di Selandia Baru.

Tidak hanya terdampak secara tidak proporsional oleh kejahatan dengan kekerasan, anak-anak Pasifika juga menjadi kelompok yang paling terdampak lonjakan angka kemiskinan. Demikian laporan dari Kaya Selbi, jurnalis RNZ Pasifik yang dilansir jubi,id dari laman i nternet RNZ Pasifik, Sabtu (28/2/2026).

Pada saat yang sama, berdasarkan data terbaru pemerintah, Pasifika tercatat memiliki tingkat pendapatan bersih median terendah dibandingkan seluruh kelompok etnis di negara tersebut.

Kemiskinan Anak

Hampir seperlima dari anak-anak Pasifika di Aotearoa (Selandia Baru dalam Bahasa Maori) telah hidup dalam kemiskinan pada tahun lalu, menurut angka baru dari Statistik Selandia Baru.

Secara keseluruhan, levelnya tetap konsisten sejak 2019. Namun, hampir sepertiga dari anak-anak Pasifika tetap dalam kesulitan material, peningkatan yang nyata selama enam tahun terakhir.

Angka-angka menunjukkan lebih dari 32 ribu anak-anak Pasifika hidup dalam kemiskinan. Mereka tetap menjadi kelompok demografis yang paling miskin di Aotearoa, diikuti oleh tamariki Māori.

Kemiskinan anak secara keseluruhan di Selandia Baru berada di 12,6 persen – 6 persen lebih rendah dari tingkat Pasifika. Menteri Pengurangan Kemiskinan Anak Louise Upston mengatakan pengurangan kesulitan material yang dialami anak-anak menjadi prioritas pemerintah.

Menteri Pengurangan Kemiskinan Anak, Louise Upston mengatakan mengurangi kesulitan material bagi anak-anak adalah prioritas bagi pemerintah.

Korban Kejahatan Kekerasan

Data terbaru dari Kementerian Kehakiman menunjukkan jumlah korban kejahatan dengan kekerasan secara keseluruhan turun 37 persen dalam dua tahun terakhir. Namun, dalam periode yang sama, jumlah korban dari kelompok Pasifika justru meningkat 42 persen.

Terdapat 5.000 korban dari komunitas Pasifik lebih banyak pada Oktober 2025 dibandingkan Oktober 2023. Dalam setahun terakhir, lebih dari 16.000 warga Pasifika menjadi korban kejahatan dengan kekerasan, yang mencakup kekerasan seksual, kekerasan fisik non-seksual, hingga perampokan.

Periode dua tahun tersebut mencakup sebagian besar masa pemerintahan koalisi yang saat ini berkuasa.

Kondisi ini menjadikan Pasifika sebagai pengecualian dibandingkan kelompok lain di Aotearoa, dengan data menunjukkan penurunan total 49.000 korban secara keseluruhan, termasuk berkurangnya korban dari kelompok Eropa dan Māori.

Menteri Kehakiman Paul Goldsmith mengatakan kepada RNZ Pacific bahwa pemerintah tengah menunjukkan kemajuan dalam menekan angka kejahatan dengan kekerasan.

“Warga Pasifik secara tidak proporsional lebih berisiko menjadi korban kejahatan, dan sejak hari pertama pemerintahan kami telah bekerja tanpa lelah untuk menempatkan korban kembali sebagai pusat sistem peradilan,” ujarnya.

Efek Domino

Menurut laporan terbaru State of the Nation yang dirilis Salvation Army, jumlah korban secara keseluruhan memang menurun, namun mereka yang menjadi korban kini lebih sering mengalami viktimisasi berulang.

Salvation Army menyatakan jejaring sosial komunitas Pasifik terdampak secara tidak proporsional oleh kejahatan dengan kekerasan. Sementara itu, sistem peradilan pidana kerap tidak mempertimbangkan identitas kolektif serta ekspektasi budaya yang melekat pada komunitas tersebut.

Pada saat yang sama, tingkat pengangguran Pasifika berada di angka 12 persen, yang turut mendorong meningkatnya angka kemiskinan anak. Analis kebijakan senior Ana Ika mengatakan kedua hal tersebut saling berkaitan erat.

“Bulan lalu data pengangguran dirilis untuk warga Pasifik angkanya lebih dari dua kali lipat dibandingkan wilayah lain di negara ini. Kondisi itu menimbulkan efek domino ke berbagai aspek, terutama ketika kita berbicara tentang kesulitan material terkait akses terhadap makanan bergizi, layanan dokter dan dokter gigi, serta pembayaran tagihan utilitas,” ujarnya.(*)