IHSG Tertekan Setelah Penurunan Outlook oleh Moody’s
JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia berpotensi menghadapi tekanan baru, setelah lembaga pemeringkat internasional, Moody’s, menurunkan outlook Indonesia dari positif menjadi negatif. Keputusan ini diumumkan dalam publikasi yang dirilis pada Kamis, 5 Februari 2023.
Moody’s tetap mengafirmasi peringkat utang senior jangka panjang Indonesia serta Medium Term Notes (MTN) pada level Baa2. Penurunan outlook ini, menurut Moody’s, disebabkan oleh proses pengambilan kebijakan pemerintah yang semakin sulit diprediksi. Hal ini berisiko melemahkan efektivitas kebijakan dan mencerminkan lemahnya tata kelola pemerintah.
Menanggapi penurunan outlook tersebut, analis dari Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa keputusan Moody’s dapat menyebabkan pasar saham Indonesia kembali mengalami tekanan. "Diperkirakan IHSG akan menguji level support di 8.000," ungkap analis dalam catatan yang dikeluarkan.
Pada perdagangan Kamis, IHSG ditutup di level 8.103,88, mengalami penurunan sebesar 0,53%. Penurunan ini dipicu oleh sentimen negatif dari kawasan Asia dan penurunan harga emas.
Sebelum penurunan outlook oleh Moody’s, beberapa institusi global lainnya juga telah melakukan langkah serupa. Goldman Sachs, misalnya, merevisi peringkat saham Indonesia menjadi level underweight. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran dari penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait kelayakan investasi dan transparansi di pasar saham Indonesia.
Bank investasi asal Swiss, UBS, juga menempatkan saham Indonesia di level netral. Akibat keputusan MSCI dan pemangkasan peringkat dari beberapa institusi global, pasar saham Indonesia menghadapi tekanan yang berkelanjutan, bahkan menyebabkan penghentian perdagangan (trading halt) sebanyak dua kali.
Sejak awal tahun, IHSG mencatat performa terburuk dibandingkan indeks saham lainnya di kawasan Asia, dengan penurunan lebih dari 6%.




