Franz Kafka: Antara Karya Sastra dan Realitas Absurditas
Nama Franz Kafka kembali mengemuka di bioskop-bioskop dunia melalui film Franz yang disutradarai oleh Agnieszka Holland. Film ini pertama kali ditayangkan di Toronto International Film Festival (TIFF) dan kemudian menyebar ke Ceko dan Polandia, dua negara yang memiliki sejarah yang kaya akan luka, memori, dan kegelisahan.
Berbeda dengan biopik pada umumnya, film ini menyajikan narasi yang dianggap sebagai "mozaik kaleidoskopik". Film ini mengaburkan batas antara realitas kehidupan Kafka dan dunia sastra surealis yang ia ciptakan. Holland sepertinya menyadari bahwa penjelasan yang terlalu lurus tentang Kafka justru akan menghilangkan esensinya. Oleh karena itu, film ini mengambil pendekatan yang lebih berkelok, melompat-lompat dalam waktu dan ruang, seakan bertanya kepada penonton, "Apakah Anda masih mengikuti?".
Meskipun film ini terus bergerak, sering kali terasa kurang tuntas. Kelebihan fokus pada eksperimen visual membuatnya kehilangan ketajaman. Kafka digambarkan seolah ingin terlihat radikal, namun dengan tampilan yang terasa tidak otentik.
Franz Kafka, lahir di Praha pada tahun 1883 dari keluarga Yahudi kelas menengah, adalah sosok yang lebih dikenal setelah kematiannya. Ia menjalani kehidupan yang tragis, terjebak dalam identitas yang bertabrakan: sebagai Yahudi di Eropa Kristen, penutur bahasa Jerman di Ceko, dan seniman dalam dunia yang didominasi pegawai.
Selama hidupnya, Kafka hampir tidak dikenal dan merasa bahwa karya-karyanya gagal. Ia bahkan meminta sahabatnya, Max Brod, untuk membakar semua naskahnya setelah ia meninggal. Namun, permintaan itu dilanggar, dan dari pelanggaran tersebut lahir salah satu suara sastra paling berpengaruh di abad ke-20, mengisahkan tentang individu kecil yang terjepit dalam mesin besar bernama modernitas.
Di Indonesia, karya-karya Kafka diterjemahkan secara bertahap sejak dekade 1980-an dan mulai dikenal di kalangan akademis. Meski demikian, pengenalan Kafka di masyarakat lebih banyak berhubungan dengan pengalaman hidup sehari-hari, seperti birokrasi yang rumit, sistem yang tidak jelas, dan perasaan bersalah yang tidak terdefinisi. Istilah "kafkaesque" telah menjadi sinonim bagi pengalaman absurd dan menekan dalam kehidupan sehari-hari.
Buku komik Kafkaesque karya Peter Kuper menawarkan interpretasi baru dari cerpen-cerpen Kafka, menggabungkan humor gelap dengan isu kontemporer, serta menjadikan pengalaman estetik yang relevan di era modern. Buku ini tidak sekadar adaptasi, melainkan sebuah tafsir ulang yang menunjukkan bahwa "kafkaesque" lebih dari sekedar cara menulis, tetapi juga cara memandang dunia.
Namun, film Franz tampaknya kesulitan menangkap esensi dari kegelisahan Kafka. Meskipun terdapat momen-momen ketika film ini benar-benar mampu menggambarkan kehadiran Kafka, seperti saat pembacaan cerpen In the Penal Colony, sebagian besar waktu film ini terjebak pada klise yang telah lama ada.
Ironisnya, meskipun Kafka menulis tentang ketidakpuasan dan ketidakberdayaan dalam sistem, film ini lebih terfokus pada gaya visual ketimbang menggali substansi dari karyanya. Hal ini membuat film terasa lebih seperti promosi untuk sejarah Kafka, bukan sebuah kritik yang tajam terhadap kenyataan yang masih ada saat ini.
Di Indonesia, meskipun Kafka tidak pernah menginjakkan kaki, semangatnya hidup dalam berbagai pengalaman sosial. Film ini seharusnya dapat menjadi jembatan antara karya klasik Kafka dan realitas modern yang masih terjebak dalam sistem yang besar dan menindas.
Dengan demikian, film Franz memiliki potensi untuk menghubungkan dua dunia ini, namun lebih memilih untuk mengomentari warisan Kafka daripada menyoroti kondisi yang masih relevan saat ini. Ketidakpuasan Kafka terhadap sistem yang ada, yang ia gambarkan dalam karyanya, tetap hidup dalam pengalaman masyarakat saat ini.
Dengan berbagai kritik yang ada, film ini mengingatkan kita bahwa Kafka tidak hanya seorang penulis, tetapi juga cermin dari absurditas yang masih ada dalam peradaban kita. Ia adalah suara bagi mereka yang merasa kecil dan terjebak dalam ketidakpastian dan ketidakberdayaan di hadapan sistem.




