Dokter Ingatkan Pentingnya Sahur untuk Penderita Obesitas
Jurnal Indonesia - Liputan6.com, Jakarta - Sebagian orang obesitas memilih tidak sahur agar berat badan cepat turun. Namun, dokter spesialis gizi klinik, Diana Suganda menjelasakan kebiasaan sebagian orang yang sengaja melewatkan sahur dengan harapan berat badan cepat turun adalah kebiasaan yang tidak baik.
“Dengan skip sahur aja itu udah agak-agak salah di habit (kebiasaan) untuk penderita obesitas atau tidak, sahur itu tetap penting,” ujar Diana dalam acara World Obesity Day 2026 dengan topik ‘Redefining Obesity: WHO-Recognized Innovation for Quality Weight Loss’ bersama Novo Nordisk di Jakarta pada Rabu, 4 Maret 2026.
Ia menjelasakan bahaya tidak sahur yang ternyata malah menimbulkan penyebab obesitas, karena ada keinginan untuk makan berlebihan saat buka puasa.
“Kalau tidak sahur, biasanya pada saat buka malah kalap. Nanti yang dipillih takjil yang berlemak, manis berlebih dan justru bisa menimbulkan obesitas. Jadi, mending sahur saja asal ada karbohidrat dan proteinnya,” tegasnya.
Diana menegaskan bahwa tujuan puasa tidak hanya berfokus pada penurunan berat badan secara cepat. Hal penting lain adalah membangun kebiasaan makan yang lebih baik dengan pola makan yang lebih sehat.
Sahur Tanpa Nasi Tidak Dianjurkan
Bagi orang yang ingin menurunkan berat badan secara drastis di bulan Ramadan, hingga memilih tidak makan nasi saat sahur merupakan pemahaman yang keliru.
Dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, Dion Haryadi, menuturkan, pentingnya sahur dengan kandungan karbohidrat.
“Kalau dari segi gizi, tidak disarankan tanpa karbohidrat, karena sahur sebagai cadangan energi untuk berpuasa seharian,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa bulan puasa bukan jadi ajang untuk menurunkan berat badan secara drastis.
“Bulan puasa bukan waktu untuk diet, tapi untuk memperbaiki pola makan, dan jaga makanan, sehingga setelah bulan puasa Anda tetap dapat menerapkan habits tersebut,” tambahnya.
Di kesempatan yang sama dokter spesialis penyakit dalam, Vardian Mahardika juga menegaskan pentingnya karbohidrat sebagai bahan energi untuk berpuasa.
“Mau bagaimanapun karbohidrat tetap penting, dan harus dibarengi dengan protein, serat bahkan vitamin,” tegas Vardian.
Selain itu, bulan puasa bisa dijadikan riset atau perbaikan pemenuhan gizi sekaligus merubah kebiasaan buruk.
“Sebenarnya metabolis risetnya yang ditekankan, jadi kurangi gula, perbaiki tensi, emosi, dan untuk membangun kebiasaan yang lebih sehat,” ucapnya.
Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi utama bagi tubuh. Tanpa asupan tersebut, tubuh berisiko lebih cepat merasa lemas, sulit berkonsentrasi, dan tidak memiliki cadangan energi yang cukup selama menjalani puasa.
Penderita obesitas tetap disarankan untuk mengonsumsi karbohidrat saat sahur dengan komposisi yang seimbang. Pengaturan yang lebih dianjurkan bukan dengan menghilangkan nasi tetapi dengan memperbaiki pola makan.
Penyebab Obesitas Bukan Hanya Malas Gerak
Obesitas tidak hanya disebabkan oleh pola makan yang berlebihan dan males berolahraga. Terdapat faktor metabolisme tubuh yang juga berperan, salah satunya berkaitan dengan hormon insulin.
Diana menyampaikan bahwa insulin memiliki peran penting dalam mengatur kadar gula darah di dalam tubuh. Namun, pada beberapa orang dapat terjadi kondisi yang disebut resistensi insulin.
Pada kondisi ini, tubuh tidak merespons insulin secara optimal. Akibatnya, gula yang seharusnya digunakan sebagai sumber energi tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh tubuh.
“Ada kondisi-kondisi di mana terjadi resistensi insulin, yaitu pada saat seseorang makan, mestinya badan itu mengakui energi. Tapi karena resistensi insulinnya, jadi tetap lapar,” jelas Diana.
Kondisi tersebut membuat tubuh seolah-olah tetap kekurangan energi meskipun sudah makan. Akibatnya, seseorang bisa terus merasa lapar dan cenderung makan lebih banyak.




