Keamanan Diet Tinggi Protein untuk Kesehatan Ginjal
Jurnal Indonesia - JAKARTA - Diet tinggi protein kerap menjadi strategi andalan bagi mereka yang ingin membentuk massa otot, mempercepat pemulihan setelah latihan, atau menjaga berat badan tetap stabil.
Pola makan ini biasanya meningkatkan porsi protein harian untuk mendukung metabolisme dan rasa kenyang lebih lama. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan tentang dampaknya terhadap kesehatan ginjal.
Menurut laporan Medical Daily pada Sabtu (28/2), para peneliti umumnya mendefinisikan diet tinggi protein sebagai konsumsi protein lebih dari 1,0 hingga 1,2 gram per kilogram berat badan per hari. Pada sebagian orang yang memiliki target kebugaran tertentu, angka ini bahkan bisa meningkat hingga 1,6 gram per kilogram berat badan per hari.
Dampak pola makan tersebut terhadap ginjal sangat bergantung pada jumlah total protein yang dikonsumsi, kualitas sumber protein, serta kondisi fungsi ginjal masing-masing individu. Pada orang yang sehat, peningkatan asupan protein dapat memicu kenaikan sementara laju filtrasi ginjal. Namun, kondisi ini tidak serta-merta menandakan adanya kerusakan.
Bagi orang dewasa sehat yang menjalani program pembentukan otot atau penurunan berat badan, asupan protein sekitar 1,2 hingga 1,6 gram per kilogram berat badan per hari umumnya masih dinilai aman.
Sebaliknya, pada individu dengan penyakit ginjal kronis, konsumsi protein berlebih dapat menjadi beban tambahan. Ginjal yang sudah mengalami penurunan fungsi penyaringan harus bekerja lebih keras untuk memproses sisa metabolisme protein, sehingga berpotensi memperparah kondisi.
Para ahli menyarankan agar diet tinggi protein tetap dijalankan secara seimbang. Protein sebaiknya dibagi ke dalam beberapa waktu makan, bukan dikonsumsi dalam satu porsi besar sekaligus, guna mengurangi tekanan kerja ginjal.
Selain itu, variasi sumber protein juga penting. Mengombinasikan protein nabati seperti kacang-kacangan, lentil, tahu, dan biji-bijian dengan protein hewani rendah lemak dinilai lebih baik dibandingkan hanya mengandalkan satu jenis sumber saja. Konsumsi daging olahan yang berkaitan dengan peningkatan risiko kardiometabolik pun sebaiknya dibatasi.
Di luar pengaturan asupan protein, pemantauan tekanan darah, kadar gula darah, dan berat badan juga berperan penting dalam menjaga kesehatan ginjal. Faktor-faktor tersebut diketahui menjadi pemicu utama kerusakan ginjal dalam jangka panjang.
Bagi individu dengan diabetes, hipertensi, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga, pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala dianjurkan untuk mendeteksi gangguan sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.




