Politik

Wawancara dengan Buya Syafii Maarif: “Saya Berharap Mereka Sadar Lagi, Jadi Manusia Normal Lagi”

Buya Syafii Maarif
Buya Syafii Maarif (Foto: Media Indonesia)

Jurnalindonesia.id – Beberapa hari terakhir ini, kediaman Ahmad Syafii Maarif di Perum Nogotirto Elok II, Sleman, Yogyakarta, dijaga polisi. Pasalnya, Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah (2000-2005) yang karib disapa Buya Syafii itu membela Gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang digugat dalam kasus dugaan penistaan agama.

Akibat sikap pembelaannya atas Ahok, banyak pihak lantas tidak suka dengan sikap Buya. Bukan hanya di-bully di media sosial, rumah Buya pun sempat dikabarkan bakal didemo massa.

Namun, doktor bidang studi bahasa dan peradaban timur dekat dari Universitas Chicago, AS, itu tidak mengurangi aktivitas. Ia tetap shalat berjemaah di masjid, bersepeda, berkumpul dengan warga, dan tersenyum kepada siapa pun yang menyapa Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta itu.

Bagaimana kondisi Buya pascaserangan bully?

Inilah wawancara Buya Syafii Maarif dengan jurnalis Media Indonesia Furqon Ulya Himawan.

Apa kabar Buya?

Alhamdulillah, sehat.

Beberapa hari terakhir, Buya di-bully di medsos. Terganggu?

Tidak, tidak apa-apa. Tidak sama sekali. Aktivitas masih lancar.

Ada perubahan aktivitas?

Masih seperti biasa, ke masjid, menulis, dan diskusi. Namun, sudah tiga hari (ini) bersama polisi, di sini (rumah), kalau malam penuh. Ada pengamanan dari kampung dan polisi.

Bagaimana Buya menghadapi pem-bully di medsos?

Saya hanya berharap mereka sadar lagi, jadi manusia normal lagi.

Sebagai tokoh, pasti ada yang suka dan tidak. Bagaimana meresponsnya?

Bersikap wajar. Prinsip agamanya kan Al-Maidah ayat 8. Kita harus adil kepada orang yang kita benci, kepada musuh pun harus adil. Itu bagus, Alquran itu sangat humanis.

Sebelum kasus Ahok, pernah di-bully?

Dulu waktu BG (Budi Gunawan) calon Kapolri, tapi waktu itu umat Islam berpihak sama saya. Sekarang terbelah, sampai ada yang minta saya sadar, tobat, ingat azab kubur. Luar biasa, tetapi mereka orang-orang yang tidak ngerti, ya mau bagaimana lagi.

Maksudnya?

Harusnya (mereka) jernih. Untuk mencari kebenaran ada dua syarat, ‘aqlun shahih wa qalbun salim (akal yang sehat, dan hati yang bening). Ketika itu ada, baru kebenaran bersahabat dengan kita. Tanpa itu tidak bisa.

Harapan Buya bagi pem-bully?

Mereka sadar bahwa hak berpendapat itu dijamin undang-undang. Berbeda, tapi jangan sampai saling mencaci dan mem-bully. Saya berharap mereka sadar.

Ada hikmah dari semua ini?

Ada yang mem-bully, ada yang cinta. Saya tahu betul masih banyak orang yang mendukung dan cinta kepada saya. Mereka yang mendukung ada yang datang ke rumah saya.

Bagaimana Buya merawat persaudaraan?

Kemanusiaan itu universal, bersaudara dalam suasana perbedaan. Jangan ada rencana buruk, jangan ada rencana tersembunyi untuk mengkhianati teman. Kita berbeda-beda, tetapi tetap kerja sama. Persekawanan harus saling jujur, menghargai perbedaan. Itulah keberagaman. Banyak warna.

Tapi akhir-akhir ini banyak terjadi pertengkaran dan konflik karena perbedaan?

Itu karena (Bhinneka Tunggal Ika) tidak dihayati. Tidak masuk hati. Coba dihayati, termasuk para politikus yang sedikit ngerti soal Indonesia, keberagaman. Ada banyak pulau, bahasa, warna kulit, dan agama, mari kita saling mengerti.

Apa yang harus dilakukan semua pihak agar toleransi dan sikap saling mengerti kembali tumbuh?

Membangun kultur. Harus dibangun kultur saling mengerti, bahwa kita semua bersaudara satu bangsa, jangan bertengkar. Kalau kita bertengkar terus, taruhannya masa depan bangsa.

Dalam konteks keberagaman, Gus Dur dinilai sosok ideal dalam memperjuangkan keberagaman dan hak-hak minoritas. Buya setuju?

Iya. Dia orang merdeka, memperjuangkan hak-hak minoritas yang dikenal nyeleneh. Tapi apa, orang merdeka itu pasti berani, dan dia berani menyampaikan apa yang terasa walaupun menimbulkan kontroversi. (Media Indonesia)

 

Artikel Lain