Nasional

Terungkap 10 Fakta Terbaru Terkait Meledaknya Gudang Petasan di Kosambi

Pabrik sekaligus gudang penyimpanan kembang api milik PT Panca Buana Cahaya Sukses yang berada di Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang meledak pada Kamis pagi, 26 Oktober sekitar pukul 09:00 WIB.

Hingga hari ini, kabar tentang peristiwa maut ini masih perbincangan paling ramai di media sosial.

Berdasarkan laporan dari Polda Metro Jaya, setidaknya 47 orang tewas dalam insiden ini. Dan angka tersebut kemungkinan akan terus bertambah mengingat ada 103 pekerja di gudang tersebut.

Tim forensik mengaku kesulitan untuk melakukan identifikasi karena kondisi jenazah banyak yang dievakuasi dalam keadaan terpanggang hidup-hidup. Polisi kemudian membuka posko untuk mengidentifikasi korban di RS Polri Kramat Jati.

Berikat 10 fakta yang kami himpun terkait peristiwa memilukan tersebut:

1. Ledakan dahsyat dan langit menjadi gelap

Pabrik petasan terbakar di Kosambi, Tangerang, Banten, Kamis (26/10/2017).

Ledakan dahsyat menggema di Kompleks Pergudangan 99, Jalan Salembaran Jaya, Desa Cengklong, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, lokasi pabrik petasan milik PT Panca Buana Cahaya Sukses berada. Sontak, suara ledakan itu membuat geger warga sekitar.

Suara ledakan itu disusul kemudian dengan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi yang berasa dari api yang membakar gudang penyimpanan petasan di pabrik tersebut.

Sejumlah saksi menceritakan bagaimana pada Kamis (27/10/2017) pagi, sekitar pukul 09.00 terdengar rentetan suata letusan selama kira-kira satu menit. Disusul kemudian muncul kobaran api dari atas gudang yang berisi bahan baku petasan itu.

“Langit sampai gelap,” ujar Yahya, tukang servis kompor, yang saat itu berada di dekat lokasi kejadian.

Amri dan Ajud yang tengah bekerja memperbaiki mess yang jaraknya sekitar 20 meter dari pabrik petasan tersebut mengatakan, usai mendengar suara ledakan, keduanya melihat atap pabrik ambruk. Ambruknya atap pabrik langsung disusul kobaran api yang langsung melahap bangunan yang terletak tak jauh dari gedung SMP 1 Kosambi itu.

2. Pintu terkunci

Evakuasi korban ledakan pabrik sekaligus gudang petasan di Kosambi, Kamis (26/10/2017).

Petugas pemadam kebakaran baru tiba lokasi sekitar satu setengah jam setelah pabrik itu mulai terbakar. Sampai di lokasi, petugas pemadam mengalami kesulitan masuk ke dalam pabrik karena pintu utama pabrik tersebut dalam keadaan terkunci.

Menurut warga yang ada di lokasi, begitu peristiwa ledakan terjadi, terdengar suara pintu gerbang depan pabrik yang digedor-gedor dari dalam. Mereka memukul-mukul sambil berteriak minta tolong.

Apa daya, kondisi gerbang terkunci. Warga kesulitan menolong mereka. Sementara api dari dalam pabrik mercon tersebut terus berkobar semakin besar.

Yahya melihat ada beberapa karyawan pabrik yang berhasil lolos dari kobaran api dengan melompati pagar setinggi 3 meter. Sementara yang tidak bisa melompati, hanya bisa memukul-mukul gerbang dan berteriak.

Sekitar 15 menit kemudian pintu gerbang baru bisa dibuka. Mereka yang di balik pintu gerbang masih bisa selamat. Tetapi, masih ada jeritan minta tolong dari dalam gudang.

Petugas pemadam baru bisa menjinakan kobaran api pada sekitar pukul 12.00 WIB. Setelah dipastikan kondisi pabrik aman, petugas pemadam bersama pihak kepolisian mengevakuasi korban dari dalam pabrik mercon itu.

3. Jebol dinding belakang

Pabrik petasan yang terbakar di Kosambi, Tangerang, Banten, Kamis (26/10/2017).

Komandan Petugas Pemadam Kebakaran Tangerang, Darda Khadafi, mengungkapkan saat tiba di lokasi sekitar pukul 10.30 WIB, mereka melihat tembok gudang sudah dijebol oleh warga. Sementara, pintu tidak bisa dibuka.

“Waktu kami datang, beberapa sudah diselamatkan oleh warga yang membobol tembok. Tidak semua, yang lain terjebak di dalam,” kata Darda.

Setelah petugas pemadam masuk, mereka menemukan tumpukan orang di belakang gudang dalam kondisi mengenaskan. Mereka terbakar dan sudah tidak bernyawa.

“Korban ada di dalam bertumpuk, ada produksi, pintu gerbang dikunci, tidak ada akses keluar,” kata Darda.

Darda menduga, para korban lari ke belakang untuk menyelamatkan diri karena pintu gerbang terkunci.

Menurut penuturan para saksi, sebelum petugas Pemadam Kebakaran tiba, warga sekitar memang telah berinisiatif menjebol tembok sebelah kanan pabrik guna menjadi jalan keluar para pekerja yang terperangkap di dalam.

Hal itu mereka lakukan karena mendengan suara teriakan minta tolong dari dalam pabrik.

“Sehingga warga memasang tangga serta menjebol dinding samping kanan untuk mengeluarkan pegawai yang terjebak,” kata Tio, salah seorang warga Kosambi.

Dinding sudah dijebol, beberapa karyawan lagi bisa menyelamatkan diri. Tetapi, lagi-lagi masih ada jeritan minta tolong dari dalam gudang. “Banyak suara perempuan muda,” kata Tio. Dan sayang, tidak semua korban berhasil lolos dari kobaran api.

4. Tidak bisa keluar dari gudang karena pintu terbakar

Personel Brimob Polda Metro Jaya mengevakuasi para korban. (Foto: Antara/Muhammad Iqbal/kye/17)

Wakil Kepala Polda Metro Jaya Brigjen Pol Purwadi, membantah isu bahwa para korban terjebak di dalam gudang karena terkunci di dalam gudang yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa. Menurut Purwadi, pintu gudang sebenarnya bisa dibuka sebagai jalan untuk melarikan diri.

“Kata korban yang selamat, bahwa begitu kejadian, dia sempat keluar dari pintu utama, jadi enggak dikunci sama sekali,” kata Purwadi di RS Polri Kramat Jati, Jumat (27/10) dinihari.

Dan beberapa pekerja lain yang akhirnya menjadi korban tidak bisa keluar dari pabrik karena api menjalar dengan cepat hingga membakar pintu utama. Akibatnya, jalur untuk menyelamatkan diri tertutup dan korban pun terjebak di dalam.

“Begitu 3 atau 4 orang keluar, ternyata di dekat pintu itu ada gudang bahan baku, sehingga pintunya terbakar dan mereka enggak bisa lagi keluar. Bukan karena terkunci, tapi karena api sehingga mereka menjauh dari pintu keluar, jadi enggak benar (terkunci dari dalam),” katanya.

Asap mengepul dari ledakan pabrik sekaligus gudang petasan di Kosambi, Kamis (26/10/2017).

5. Korban tak bisa dikenali

Polres Metro Tangerang Kota telah memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap misteri penyebab kebakaran. Namun, hingga kini belum banyak informasi yang didapat.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Harry Kurniawan menjelaskan, pihaknya saat ini memang belum meminta keterangan dari korban selamat ledakan gudang kembang api. Hal itu dilakukan untuk alasan kemanusiaan.

“Kita kedepankan kemanusiaan dulu, mengutamakan evakuasi dan mencari korban. Untuk penyebab atau dugaan awal ledakan kita masih lidik,” kata Harry.

Seluruh korban tewas dalam kebakaran pabrik kembang api di Tangerang dibawa ke Rumah Sakit Polri, Kramatjati, Jakarta Timur.

Personel Brimob Polda Metro Jaya mengevakuasi para korban. (Foto: Antara/Muhammad Iqbal/kye/17)

Jasad-jasad terbungkus kantong jenazah dibawa menggunakan ambulans, Kamis sore. Sepuluh tim identifikasi dikerahkan untuk mengumpulkan data postmortem.

Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes Umar Shahab, mengatakan pencocokkan identitas bukan perkara gampang.

“Puluhan korban tidak bisa dikenali, kecuali dengan gigi geligi dan DNA,” kata Umar.

Ia mengimbau masyarakat yang kehilangan anggota keluarga yang berpotensi jadi korban kebakaran untuk datang ke RS Polri.

Mereka diminta membawa anggota keluarga yang memiliki hubungan darah langsung dengan korban, juga rekam kesehatan gigi.

Di bagian belakang pabrik yang hangus, ditemukan para korban yang tak lagi bernyawa. Kondisi mereka mengenaskan, bahkan sebagian besar tak lagi bisa dikenali.

Apa yang membuat kebakaran tak seberapa besar bisa merenggut banyak korban jiwa? Belum ada jawaban pasti. Polisi masih menyelidikinya.

Petugas forensik RS Polri Kramatjati menurunkan jenazah korban di Instalasi Kedokteran Forensik RS Polri Kramatjati, Jakarta, Kamis (26/10/2017).

6. Baru beroperasi dua bulan

Dari keterangan polisi, gudang pengepakan dan penyimpanan kembang api itu dimiliki pria bernama Indra Liyono (40 tahun) warga Kalideres, Jakarta Barat. Celakanya, saat peristiwa ledakan terjadi, ia tengah berada di Malaysia.

Kapolres Metro Tangerang Kombes Harry Kurniawan mengatakan jika gudang tersebut memang bergerak untuk meracik kembang api. Namun, gudang tersebut diketahui baru beroperasi selama dua bulan.

“Baru beroperasi dua bulan,” kata Harry kepada media.

Namun uniknya, warga yang bermukim di sekitar lokasi gudang tidak mengetahui jika tempat itu digunakan untuk memproduksi kembang api. Salah satu warga bernama Benny Benteng yang tinggal di dekat gudang penyimpanan mengaku hanya tahu jika gudang tersebut difungsikan untuk menyimpan pasir Cina berwarna putih.

“Warga tidak tahu kalau gudang itu digunakan untuk memproduksi dan menyimpan kembang api,” kata Benny di area Kembangan, Kabupaten Tangerang.

Hal itu tidak mengherankan sebab, sejak awal beroperasi pintu gerbang selalu tertutup rapat. Para karyawan yang dipekerjakan pun mayoritas perempuan.

Warga memadati lokasi kebakaran pabrik petasan di Tangerang Kota, Banten, 26 Oktober 2017.

7. Klaim kantongi izin

Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar menyebut jika PT Panca Buana Cahaya Sukses sudah mengantongi izin. Perusahaan semula mengajukan izin operasi gudang, lalu mereka mengajukan izin pabrik packing kembang api.

“Sudah komplet (izinnya). Ini zona pergudangan dan industri kecil dan isinya untuk packing kembang api serta izinnya sudah selesai di tahun 2016,” ujar Zaki.

Bupati Tangerang, Ahmed Zaki Iskandar

Ia menyimpulkan jika sudah ada izin yang dikantongi oleh PT Panca Buana Cahaya Sukses, artinya perusahaan tersebut sudah memenuhi persyaratan.

“Ini kan dia di dalam pabrik. Ini kan sudah ada izin keluar, berarti kan sudah sesuai persyaratan. Tapi, kemudian kan bagaimana pelaksanaan di lapangan. Ini perlu kami tekankan, harusnya sesuai dengan SOP,” tutur Zaki.

Sementara, ketika ditanyakan mengenai lokasi gudang kembang api yang dekat dengan pemukiman warga, Zaki menyebut hal itu tidak ada masalah. Sebab, industri perakitan kembang api masuk ke area pergudangan.

“Dan itu diperbolehkan,” tutur dia.

Ia turut menyebut tidak ada masalah jika gudang dibangun berbatasan langsung dengan pemukiman warga.

8. Indikasi manipulasi data untuk legalitas

Pengamat tata kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna, mempertanyakan legalitas PT Panca Buana Cahaya Sukses karena lokasinya yang berdekatan dengan pemukiman warga.

“Seharusnya lokasi industri dengan high risk tidak berada di tengah lingkungan masyarakat. Namun, industri semacam ini juga tidak bisa masuk ke kawasan industri karena terlalu kecil,” ujar pengamat tata kota Universitas Trisakti, Yayat Supriatna.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna

Ia mengatakan, mestinya ada syarat ketat dan pengawasan lebih pada pendirian tempat usaha dengan risiko tinggi.

Namun, sering kali pengusaha juga memanipulasi data saat mengajukan izin mendirikan usaha.

“Peristiwa ini menjadi pembelajarannya. Untuk prosedur harus ketat dan auditnya harus rutin 6 bulan sekali misalnya,” kata Yayat.

Selain itu, dia menyoroti tentang syarat bangunannya. Polisi menyatakan korban tidak bisa melarikan diri karena minimnya pintu. Korban meninggal ditemukan berkumpul di bagian belakang pabrik karena menghindari api di depan.

Menurut dia, ini juga menjadi bahan evaluasi saat memberikan izin tempat usaha. Perusahaan, lanjut dia, harus membangun jalur evakuasi ketika terjadi bencana.

9. Indikasi mempekerjakan pekerja anak

Daftar berisi daftar nama korban yang dirawat di rumah sakit dan dipajang di kantor kelurahan pada Kamis, 26 Oktober. (Foto: Ratu Selly/Rappler)

Bupati Kabupaten Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengonfirmasi adanya indikasi PT Panca Buana Cahaya Sukses mempekerjakan pekerja anak. Hal itu lantaran terdapat korban luka yang masih berusia 15 dan 16 tahun.

“Tadi juga ada informasi, termasuk di sini ya, pekerja ada yang berada di bawah umur. Tadi ada yang berumur 15 tahun dan umur 16 tahun, nah itu nanti kami serahkan dan harus dipertanggung jawabkan oleh pemilik,” kata Ahmed di RSU Kabupaten Tangerang.

Polisi membagi dua lokasi untuk para korban. Bagi korban luka, mereka dievakuasi ke beberapa rumah sakit terdekat yakni antara lain di RS Ibu dan Anak Kosambi, Mitra Husada Teluk Naga dan RSUD Kabupaten Tangerang.

10. Tragedi terbakarnya pabrik petasan paling mematikan

Pabrik petasan yang terbakar di Kosambi, Tangerang, Banten, Kamis (26/10/2017)

Kepala Pemadam Kebakaran Kabupaten Tangerang, Agus Suryana, mengatakan itu adalah kebakaran paling menyedihkan yang dihadapi para anggotanya.

“Ini jadi sejarah buruk, kelam, buat pasukan biru,” kata Agus kepada Kamis malam (26/10/2017). “Itu adalah kebakaran terbesar di Kabupaten Tangerang.”

Kebakaran itu sejatinya tak besar. Agus memperkirakan, kobaran api sebesar itu bisa diatasi dalam dua jam. Namun, para petugas yang melakukan evakuasi dihadapkan pada kejutan tak menyenangkan.

Sejumlah saksi mata mengaku mendengar dua ledakan. Pertama terjadi sekitar pukul 09.00 WIB, sementara yang kedua menggelegar sejam kemudian.

“Kemungkinan, mayoritas korban meninggal pada ledakan yang kedua,” kata Agus.

Berdasarkan data, jika dibandingkan dengan peristiwa serupa di lokasi lain, tingkat keparahan kebakaran ini kalah dahsyat.

Misalnya, dua bulan lalu, kebakaran hebat di sebuah pabrik tiner di kawasan pergudangan Kadu Manis, Tangerang, baru bisa dipadamkan dalam waktu 11 jam. Namun, tidak ada korban jiwa dan orang-orang yang terluka.

Pada 23 Juli 2017, sebuah rumah tempat memproduksi mercon meledak di Kebumen, Jawa Tengah. Sebanyak 23 rumah di sekitarnya rusak, sementara korban jiwa nol.

Sementara pada 31 Mei 2017, sebuah rumah tempat produksi petasan juga meledak di Pamekasan, Jawa Timur. Dua orang meninggal dunia dan satu luka pada peristiwa tersebut.

Pembandingnya tak hanya di Indonesia. Kebakaran pabrik kembang api di Tangerang juga lebih mematikan dibanding kejadian serupa di Meksiko.

Pada Desember 2016, ledakan hebat terjadi di sebuah pasar kembang api San Pablito, 32 kilometer di luar Mexico City. Akibatnya, 26 orang tewas dan banyak lainnya yang terluka.

Video dari lokasi kejadian menunjukkan, sejumlah besar kembang api melesat dan meledak di udara saat tersulut api. Area kemudian ditutupi awan gelap yang tebal.

Menurut catatan kami, kebakaran di Tangerang ini merupakan kebakaran pabrik petasan terbesar di Tanah Air selama 2017.

Artikel ini sudah diterbitkan di Cowok.co

Komentar Facebook

You Might Also Like