Nasional

Tanah Abang-Balai Kota Cuma 3 KM, Koalisi Pejalan Kaki: Tak Perlu Pakai Drone untuk Cek Kemacetan

Pedagang kaki lima (PKL) mengokupasi jalur pedestrian di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (30/10/2017).(Kompas.com/Sherly Puspita)

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengungkapkan beberapa hal yang menjadi biang kemacetan di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Selain karena adanya pembangunan, Sandi juga menyebut penyebab kemacetan adalah pejalan kaki.

Hal itu, kata Sandi, berdasarkan gambaran yang diambil dengan kamera drone yang terintegrasi aplikasi Qlue dan Waze.

“Temuannya ternyata, ya, (penyebab) kesemrawutan (Tanah Abang) itu adalah satu pembangunan jalan, nomor dua tumpahnya pejalan kaki yang keluar dari Stasiun Tanah Abang, dan ketiga banyak angkot yang parkir liar atau ngetem,” ujar Sandi di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (6/11/2017).

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno di Balai Kota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Senin (6/11/2017). (Foto: Kompas.com)

Sandi juga menyebut keberadaan PKL bukan penyebab utama kemacetan dan kesemrawutan di Tanah Abang sebab jumlahnya tidak terlalu signifikan.

Menguatkan pernyataan Sandi tersebut, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan bahwa apa yang Sandi katakan merupakan hasil dari riset.

“Anda baca yang lengkap, dong. Itu, kan, hasil riset saja,” kata Anies, Selasa.

Posted by Jurnal Indonesia on Monday, 6 November 2017

Menanggapi hal itu, Koalisi Pejalan Kaki pun mengkritik pernyataan Sandi soal penyebab kemacetan di Tanah Abang.

Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus mempertanyakan fungsi trotoar di Tanah Abang seharusnya untuk apa dan siapa.

“Kalau disebutkan seperti itu (pejalan kaki bikin macet), anak TK sekalipun kalau diajak datang dan ditanya yang bikin macet siapa sudah bisa menilai karena pejalan kaki. Namun, masalah mengapa pejalan kaki sampai turun ke jalan, kan, mereka tidak tahu karena trotoar dipakai dagang,” kata Alfred, Selasa (07/11).

Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus. (Foto: Kompas.com)

Alfred mengatakan, tidak perlu bantuan drone untuk melihat kemacetan di Tanah Abang. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI bisa datang langsung ke Tanah Abang yang jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari Balai Kota.

Alfred pun meminta Anies-Sandi tidak menyimpulkan sesuatu hanya dari laporan foto.

Penjelasan Sandi

Mendapat banyak kritikan lantaran menyalahkan pejalan kaki sebagai penyebab kemacetan, Sandi kemudian mengklarifikasi pernyataannya itu. Ia mengatakan, penyebab utama kemacetan di Tanah Abang adalah pembangunan, kedua adalah angkot yang ngetem. Ketiga adalah penataan 300.000 pejalan kaki yang tumpah dari Stasiun Tanah Abang.

Sandi menegaskan tidak menuding pejalan kaki sebagai penyebab kemacetan. Pejalan kaki justru harus dimuliakan dengan memberi mereka ruang khusus.

Selama ini, trotoar yang seharusnya khusus pejalan kaki diokupasi PKL. Akibatnya, pejalan kaki berjalan di badan jalan.

“Begitu keluar (stasiun), kalau mereka enggak disiapkan trotoar yang benar, mereka akan turun ke jalan. Sebab, trotoar diokupasi PKL, ada tukang ojek pangkalan,” ucap Sandi.

PKL dan ojek pangkalan yang mengokupasi trotoar hingga badan jalan, kata Sandi, harus ditertibkan sehingga trotoar berfungsi seperti seharusnya.

Sementara itu Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko pun mencoba menjelaskan bahwa Sandi tidak bermaksud menyalahkan pejalan kaki sebagai biang kemacetan di Tanah Abang.

Menurut Sigit, Sandi hanya ingin memaparkan data yang ada dalam riset.

“Kalau kami hitung perbandingan PKL, pejalan kaki, dan angkutan umum, memang yang paling besar itu pejalan kaki. Dia user terbesar,” ujar Sigit.

Itu bukan berarti Pemprov DKI menyalahkan pejalan kaki. Sigit mengatakan, pihaknya justru sedang mencari cara agar pejalan kaki bisa terfasilitasi dengan baik dan tidak tumpah ke jalan saat keluar dari stasiun.

Menurut dia, saat ini pejalan kaki menjadi prioritas utama dalam penataan Tanah Abang.

“Pejalan kaki adalah yang paling utama. Mereka adalah pelanggan pertama yang harus dilayani,” ujar Sigit.

Artikel ini sudah diterbitkan di Cowok.co

Komentar Facebook

You Might Also Like