Ekonomi dan Bisnis

Soal Pernyataan Jokowi yang Meminta Kurs Yuan sebagai Acuan, Ini Penjelasan Darmin

Menko Perekonomian Darmin Nasution
Menko Perekonomian Darmin Nasution

Jurnalindonesia.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan maksud pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyatakan kurs rupiah terhadap dolar AS saat ini tidak mencerminkan kondisi ekonomi domestik.

“Apa yang dikatakan Presiden itu maksudnya, esensinya sebenarnya kurs suatu negara dengan negara lainnya itu ditentukan betul oleh perdagangannya,” ujar Darmin usai menghadiri “Sarasehan 100 Ekonom Indonesia” yang juga dihadiri Presiden di Jakarta, Selasa.

Darmin mencontohkan, nilai kurs rupiah terhadap kurs Yuan China semestinya diukur berdasarkan transaksi ekonomi Indonesia dengan Negeri Tirai Bambu itu.

“Artinya, kurs mata uang kita dengan China mestinya ya memang berdasarkan transaksi ekonomi kita dengan China, baik ekspor ataupun impor,” kata Darmin.

Sebelumnya, saat menjadi pembicara kunci dalam acara yang digelar Institute of Development Economics and Finance (INDEF) itu, Presiden Joko Widodo menilai kondisi rupiah yang melemah terhadap dolar AS saat ini tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia.

Menurut Jokowi, efek terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS ke-45, membuat dolar AS menguat tidak hanya terhadap rupiah, namun juga terhadap hampir seluruh mata uang di dunia.

Kendati demikian, Jokowi menegaskan tidak tepat apabila mengukur kondisi ekonomi Indonesia hanya melalui nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Kurs rupiah terhadap dolar bukan lagi tolak ukur yang tepat, tapi kurs rupiah terhadap mitra dagang kita,” ujar Jokowi. (Baca: Dianggap Tak Lagi Relevan, Jokowi Minta Nilai Tukar Rupiah Diukur dengan Yuan)

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah dalam dua pekan terakhir menunjukkan tren melemah. Selasa ini sudah mencapai Rp13.405 per dolar AS, menguat dibandingkan hari sebelumnya Rp13.516 per dolar AS.

(Antaranews)

 

Artikel Lain