Nasional

Ratna Sarumpaet dan Anggota DPRD Dampingi Warga Tolak Penggusuran di Rawajati

warga rawajati
Warga RT 09 RW 04 Kelurahan Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan mendeklarasikan penolakan penggsuran, Kamis (25/8/2016).

Penertiban permukiman liar di RT 09 RW 04 di Jalan Rawajati Barat III, Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan, Kamis (1/9/2016) pagi memanas dan sempat ricuh. Kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 06.50 WIB.

Ratusan petugas Satpol PP yang datang dari depan Apartemen Kalibata City menuju ke Jalan Rawajati Barat III berhadapan dengan puluhan warga yang menghadang di mulut jalan. Petugas berniat mendorong warga masuk ke permukimannya.

Namun, warga bertahan. Warga yang memegang kayu dan bambu tampak memukul petugas. Petugas berseragam dan bertameng menangkis serangan warga. Selama kurang lebih lima menit terjadi aksi dorong dan saling pukul antar warga dan petugas.

Batu-batu pun berterbangan tetapi tidak diketahui siapa yang melempar batu-batu itu.

Seorang warga kemudian diamankan petugas. Warga yang menghadang petugas terdiri dari pria dan wanita.

Suasana pada sekitar pukul 07.00 mulai tenang, setelah perwakilan warga maju dan berbicara lewat pengeras suara. Orang yang berbicara lewat pengeras uara itu berharap masing-masing pihak menahan diri.

“Jangan diadu domba. Kalau rumah bapak digusur gimana Pak, pikir, punya perasaan. Minta tolong Pak,” seru perwakilan warga itu.

Pihak kepolisian terlihat mem-back up petugas Satpol PP di barisan belakang.

Ratna Sarumpaet dan Anggota DPRD muncul

Aktivis Ratna Sarumpaet muncul di tengah petugas Satpol PP dan warga Rawajati, Jakarta Selatan, tak lama setelah kericuhan terjadi.

Ratna tak sendirian. Anggota DPRD DKI, Syarif, juga muncul bersama Ratna. Keduanya berusaha menemui petugas Satpol PP di barisan paling depan.

ratna sarumpaet

Aktivis Ratna Sarumpaet saat deklarasi penolakanpenggusuran Rawajati, Jakarta Selatan, Kamis (25/8/2016).

Ratna dengan nada lantang meminta petugas Satpol PP tidak melakukan penertiban. Ratna meminta petugas menunjukan surat tugas untuk melakukan penertiban tersebut.

“Mana surat tugasnya, tunjukin dong surat tugasnya,” tanya Ratna kepada petugas Satpol PP.

Ratna berorasi di hadapan petugas Satpol PP agar mengikuti prosedur dalam upaya penertiban, misalnya memberikan surat peringatan (SP) 1, 2, dan SP 3.

“Ada aturan, pemberian SP-1, 2, dan 3. Tidak melalui surat yang terkesan liar,” kata Ratna.

“Sebenarnya kita mau membangun enggak sih? Mau Jakarta lebih bagus? Mau! Tapi ada cara yang sopan,” kata Ratna.

Syarif yang berada di samping Ratna meminta Satpol PP di barisan paling depan memanggil pimpinannya. Namun seorang petugas Satpol PP meminta Syarif menemui pimpinannya di belakang.

Situasi di lokasi saat ini cukup tegang karena petugas dan warga masih berhadap-hadapan.

Warga dan anggota ormas Forum Betawi Rempug yang memadati Jalan Rawajati Barat, dengan didampingi aktivis Ratna Sarumpaet pun mendeklarasikan penolakan rencana penggusuran tersebut.

Warga di barisan terdepan menyerukan kata ‘merdeka!’ berkali-kali di hadapan awak media.

“Kami menolak penggusuran karena pemerintah tidak sesuai dengan kesepakatan kami,” kata Imam, salah satu warga saat berorasi. Rencananya, warga di Rawajati tersebut akan direlokasi ke Rusun Marunda, Jakarta Utara.

Imam mengatakan bahwa Rusun Marunda terlalu jauh dari lokasi mereka tinggal dan dikhawatirkan akan menyusahkan hidup mereka.

ricuh rawajati

Seorang petugas Satpol PP terluka dalam bentrok dengan warga RT 09 RW 04 Rawajati, Pancoran, Jakarta Selatan, saat penertiban. Kamis (1/9/2016)

Ibu-ibu di barisan depan juga bersahut-sahutan menyampaikan keluhannya.

Mereka khawatir usaha yang mereka jalankan menjadi tidak menentu apabila mereka direlokasi ke Rusun Marunda.

Sebanyak 60 kepala keluarga yang terdiri dari 160-an jiwa ini memang sudah 30 tahun menempati bangunan yang berdiri di sepanjang Apartemen Kalibata City dan berbatasan dengan pagar rel kereta api tersebut.

“Kami langsung digusur tanpa ada kesepakatan, tanpa musyawarah terlebih dahulu. Selama ini hanya lurah yang menemui kami,” kata Imam.

Warga menuturkan, belum lama ini ada rapat yang mengundang warga terkait sosialisasi relokasi.

Namun, dalam rapat yang mengundang wali kota dan camat itu, hanya lurah yang hadir memberikan penjelasan.

Warga Rawajati Akhirnya Kosongkan Bangunan

Sekitar pukul 07.40 WIB, perlawanan warga berhenti. Warga yang didesak masuk ke dalam Jalan Rawajati Barat III mundur ke arah kantor Lurah Rawajati di belakang permukiman mereka.

Ratusan petugas Satpol PP yang bergerak masuk kemudian meminta warga mengosongkan tempat tinggal mereka.

Warga yang bertahan, sebagian besar wanita dan anak-anak, membawa keluar perabotan yang masih disimpan di dalam rumah.

Sebagian besar perabotan rumah dan dagang, seperti etalase, lemari, kulkas, meja, sepeda motor dan lainnya.

Petugas Satpol PP membantu warga mengemasi barang karena mereka tidak mempersiapkan diri untuk mengosongkan bangunan. Sempat ada yang protes namun tak bisa berbuat banyak.

penggusuran rawajati

Petugas Satpol PP DKI memasuki kawasan permukiman Rawajati, Jakarta Selatan, yang diditertibakan Kamis (1/9/2016). Permukiman itu dinyatakan liar dan kawasan itu akan dijadikan taman.

“Saya memperjuangkan hak saya Pak,” teriak salah satu warga Rawajati, Kamis (1/9/2016) pagi.

Petugas penertiban tetap meminta warga keluar rumah. Barang perabotan milik mereka diletakkan di pinggir jalan.

Saat ini, satu unit alat berat sudah masuk dan mulai membongkar satu per satu rumah warga dari ujung jalan.

Warga kesal karena lurah hanya jadi perpanjangan tangan pemerintah dan tidak membela warga. “Lurah baru saja, baru sebulan,” kata warga lainnya.

Sementara itu, Ratna Sarumpaet mengatakan bahwa ia dan warga meminta kepada DPRD DKI Jakarta agar menyurati Pemprov DKI Jakarta sehingga penggusuran ditunda.

“Kami habis dari sini akan ke LBH Jakarta supaya dibantu secara hukum. Tapi kita juga akan ke DPRD. Setidaknya mereka bisa menyurati agar pemerintah memperlakukan warga dengan sopan. Tahu-tahu tanggal 1, eh no matter what digusur. Emang dia siapa?” kata Ratna.

Komentar Facebook

You Might Also Like