Protes Kebijakan Trump, Azan Dikumandangkan di Gereja

oleh

Jurnalindonesia.id, mancanegara – Di media sosial beredar video gereja yang mengumandangkan azan.

Dalam keterangannya, gereja tersebut berada di kota Boston, Amerika Serikat.

Aksi tersebut sebagai bentuk protes terhadap kebijakan presiden AS Donald Trump yang yang melarang masuk warga dari tujuh negara Islam. Tujuh negara muslim tersebut adalah Irak, Iran, Suriah, Libya, Yaman, Sudan, dan Somalia.

Video yang diunggah di akhir Januari itu kemudian menjadi viral dan dibagikan hingga ribuan kali dan dibandjiri ratusan komentar dari seluruh dunia.

Berikut videonya:

Azan di gereja sebagai bentuk protes

Aksi mengumandangkan azan di gereja bukanlah baru kali ini terjadi. Peristiwa serupa pernah terjadi beberapa kali di belahan dunia.

Azan di gereja Palestina

Sebelumnya, pada pertengahan November 2016 lalu, gereja-gereja di Palestina secara kompak mengumandangkan azan sebagai respons atas rencana Pemerintah Israel untuk membatasi volume suara azan di masjid-masjid di Palestina.

Seluruh gereja Palestina di Kota Nazareth kemudian menunjukkan solidaritasnya dengan mengumandangkan azan.

Sikap dewan gereja Palestina ini juga merupakan bentuk dukungan penuh terhadap hubungan harmonis antara warga Muslim dan Kristen di Palestina.

Langkah gereja ini memicu kekaguman dari dunia Islam, yang melihatnya sebagai bentuk kehidupan yang harmonis antar umat beragama di Palestina.

Diberitakan Ahram Online, tindakan gereja-gereja itu juga mendapat warga Kristen di Yerusalem Palestina yang naik atap rumah dan bersama-sama mengumandangkan adzan bersama warga Muslim.

Selain itu, ribuan kaum Muslim, Kristiani, dan Yahudi menyerukan azan bersama di alun-alun utama Kota Nablus, bagian utara Tepi Barat pada Minggu (20/11). Massa yang terdiri dari warga, organisasi-organisasi Palestina, dan perwakilan umat tiga agama samawi menggelar aksi protes dengan menyerukan slogan “menara mesjid tidak akan pernah dibungkam” seraya menyerukan lantunan azan bersama-sama.

Insiden ini terdokumentasi dalam sebuah video yang menjadi viral di media sosial. Berbagai pujian dilayangkan terhadap aksi solidaritas itu, sementara, cemoohan terus menghujani pembatasan kebebasan beragama yang diatur oleh otoritas israel.

Azan di gereja Marble Collegiate New York 2015

Peristiwa ini terjadi di sebuah gereja Marble Collegiate di New York sebagai bentuk solidaritas masyarakat New York di tengah kecamuk ketakutan non Muslim Amerika kepada Islam.

Dikutip dari laman mediacatch.pk, pihak gereja sengaja mengundang seorang pria Muslim untuk mengumandangkan azan di tengah para jemaat yang hadir pada Jumat (26/6/2015), untuk pesan perdamaian di antara pemeluk agama yang berbeda.

Muslim Amerika yang dipanggil tersebut bernama Abdelwahab Ben Youcef.

Abdelwahab mengungkapkan hal yang mengejutkan. Saat dirinya meninggalkan gereja usai mengumandangkan aza, sejumlah besar anak-anak mengelilinginya dan meminta dia untuk melafalkan Azan lagi.

Seluruh proses ini kemudian diulangi di luar gereja.

Dikutip dari portal berita Pakistan C-News, kumandang azan di gereja yang diprakarsai Christian American Group ini dikatakan menjadi contoh indah untuk melawan ketakutan ataupun kebencian nonMuslim kepada Islam.

Video kumandang azan di gereja oleh pria Muslim Amerika berdarah Aljazair itu juga sudah diunggah di Youtube yang memperlihatkan laki-laki diapit dua pendeta mengumandangkan azan secara khusuk dan tenang. Berdasarkan penelusuran, video berjudul ‘Peace between Christians and Muslims (Beautiful Azan in Church)’ tersebut telah diunggah sejak tahun lalu.

Dalam catatan kami, itu adalah peristiwa kedua kali di mana sebelumnya, di tempat yang sama, juga pernah dikumandangkan azan.

Azan di gereja Marble Collegiate New York 2007

Gereja Marble Collegiate New York
Gereja Marble Collegiate New York
Saat itu di bulan November 2007. Azan dilantunkan dari awal hingga akhir oleh Christopher Herbert dan menggema di Gereja Marble Collegiate di kawasan Manhattan, New York.

Suara azan yang dikumandangkan anggota jamaah Marble Collegiate Church itu merupakan salah satu acara yang mengawali berlangsungnya dialog segitiga kalangan penganut agama Kristen, Yahudi dan Islam di New York, Minggu.

Dialog yang mengusung tema “Perspektif dari Tiga Agama” tersebut menghadirkan tiga pemimpin agama, yaitu pemimpin masyarakat muslim Indonesia Syamsi Ali, Pendeta Yahudi Peter J. Rubinstein, dan Pendeta Edwin G. Mulder –mewakili komunitas Marble Collegiate Church.

Mengawali sesi dialog, Syamsi Ali, yang juga Ketua Dewan Masjid Al-Hikmah New York, membawakan bacaan Alquran Surat Ali Imran ayat 102 yang maknanya menekankan bahwa persaudaraan merupakan sebuah karunia.

Tidak hanya azan, dialog itu juga dimulai dengan pembacaan doa dan puji-pujian ala Yahudi dan Kristen.
Menurut Syamsi, pengumandangan azan oleh salah satu Gereja telah melalui konsultasi dengan pihaknya.

“Mereka menanyakan apa yang bisa dibawakan untuk menghormati kedatangan warga muslim. Saya katakan azan saja. Beliau (Chrisopher Herbert, red) sendiri mengambil sekolah teologi di Universitas Harvard di Boston,” kata Syamsi ketika menjawab pertanyaan ANTARA tentang berkumandangnya azan di Marble Collegiate Church.

Gereja yang didirikan pada tahun 1854 itu sendiri dipadati oleh ratusan anggota Gereja serta beberapa warga muslim dan Yahudi.