Politik

Pesan Moral yang Dapat Diambil Dari Drama Pilgub DKI 2017

Drama fluktuasi peta politik di Indonesia memang selalu menjadi tontonan yang bisa membolak-balikkan emosi masyarakat. Setelah masyarakat disajikan dengan pertarungan politik pemilihan presiden yang cukup membelah suara pengguna internet dan social media, kini masyarakat kembali dihadapkan dengan pertarungan pemilihan pimpinan daerah.

Banyak pertarungan politik yang tersaji saat ini, terutama di Internet, baik berita di portal berita politik Pilgub DKI 2017 Okezone yang langsung membahas pilkada DKI 2016 ini atau dari sekedar status seorang yang mengaku pengamat politik.

Seperti yang kita ketahui, pilkada DKI dimulai manis dengan tiga pasangan calon gubernur DKI yang ber-selfie ria dengan wajah yang riang. Kemudian, keadaan makin memanas dengan sindiran-sindiran sang calon yang menyerang kelemahan calon lain. Dan pada bulan November ini, masyarakat dihebohkan dengan aksi 4 November (411) yang dipicu oleh dugaan penistaan agama yang dilakukan salah satu calon gubernur, yang juga incumbent, Ahok.

Kendati demikian, bola panas bukan hanya didapatkan oleh Basuki, pasalnya konfrensi press yang dilakukan oleh mantan presiden Susilo Bambang Yudoyhono pun mendapatkan berbagai hujatan di media sosial. Hal tersebut tentu memiliki dampak yang signifikan terhadap Agus, yang merupakan salah satu calon gubernur dan juga anak dari SBY.

Hal tersebut tentunya memicu konflik kedua calon pasangan Agus-Sylvi dan Ahok-Djarot. Perang opini dari kedua pendukung calon pasangan tersebut tentu sangat menguntungkan Anies-Uno. Pasalnya Anies dan Uno bisa lebih focus terhadap strategi serta kampanye secara tenang dan diterima masyarakat.

Informasi berita seputar Pilgub DKI 2017 Okezone tersebut tentu memiliki banyak pesan moral yang harus diambil agar kita menjadi pribadi yang lebih baik, demilikian pula kekeruhan politik yang terjadi di Indonesia saat ini. Berikut beberapa pesan moral yang dapat diambil dari drama pilkada DKI 2016.

  1. Bijak Dalam Memilih Kata, Terutama Jika Mengomentari Sesuatu yang Bukan Keahlian Anda

Jika anda suka berkomentar didepan orang banyak dan suka mengkritisi sesuatu, tidak ada salahnya jika anda mencari dan mempelajari permasalahan yang akan anda komentari terlebih dahulu. Pastikan informasi tersebut tidak anda lihat dengan satu sisi. Jika anda tidak berkomentar dengan cerdas dan bijak, bisa saja anda bernasib sama dengan Ahok yang dianggap menistakan agama karena komentarnya tentang ayat suci.

  1. Jangan Biarkan Perbedaan Pilihan Politik Memecah Belah Bangsa

Banyak posting-posting yang bertebaran di media social, isinya adalah mengejek atau membela tokoh politik yang dikagumi masing-masing netizen. Banyak yang mengakui bahwa konflik perbedaan ini membuat mereka bertengkar dengan teman baik mereka. Hal inilah yang harus dihindari saat ini.

Perbedaan pendapat dan politik tidak boleh memecah belah bangsa. Pada dasarnya politik adalah salah satu upaya untuk membawa bangsa Indonesia lebih baik dengan usaha bersama-sama. Namun, jika tidak dijalani dengan kepala dingin, politik akan menjadi titik balik kebangkitan bangsa dan Negara kita. Oleh karena itu, jangan anggap serius isu negative dari gejolak politik.

 

  1. Tegas, Bukan Berarti Keras

Banyak yang menyayangkan kinerja lamban pemerintah dalam menangani kasus SARA dalam pilkada kali ini, dengan dugaan adanya backing-an dari politisi senior.  Hal ini yang menjadi pemicu komentar-komentar keras di internet dan aksi 411 kemarin. Namun, banyak pula yang memilih untuk menanggapi permasalahan pelik ini dengan kepala dingin dan menyerahkannya pemerintah agar isu tersebut ditangani sesuai hukum.

Berbagai drama suatu kasus seperti ini memang memerlukan ketegasan dari masyarakat sebagai pemegang kedaulatan negeri, namun, hal semacam ini lebih memerlukan aksi yang lebih cerdas dan taktis, meski respon masyarakat seperti yang ditunjukkan dalam aksi 411 lalu diperlukan untuk menekan pemerintah agar bergerak cepat dan mengusut kasus apapun sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.

 

Artikel Lain