Nasional

Pernyataan Saksi Ahli Bahasa Sama Persis dengan Pernyataan Wasekjen MUI

Saksi ahli Bahasa Indonesia, Prof Mahyuni (baju putih). (Foto: ikbal/Poskotanews)

Jurnalindonesia.id – Sidang ke 10 kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menghadirkan seorang saksi ahli bahasa, yaitu Prof Mahyuni.

Jaksa penuntunt umum (JPU) menghadirkan Mahyuni sebabagai ahli Bahasa Indonesia, meskipun dalam riwayat hidup yang tertulis di BAP Mahyuni berlatar belakang pendidikan Bahasa Inggris.

Dalam keterangannya, Mahyuni berpendapat tidak perbedaan makna ada atau tidaknya kata “pakai” dalam pidato Ahok di Kepulauan Seribu saat menyebut Surat Al Maidah pada September tahun lalu.

BAP Prof. Mahyuni

BAP Prof. Mahyuni

BAP Prof. Mahyuni

BAP Prof. Mahyuni

“Saudara ahli, apakah sama makna kalimat yang berbunyi, ‘Dibohongi pakai Surat Al-Maidah’ dengan kalimat, ‘Dibohongi Surat Al-Maidah’? Bagaimana menurut ahli?” tanya JPU Ali Mukartono di hadapan majelis hakim dalam persidangan yang digelar di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (13/2/2017).

Mahyuni berpendapat, menggunakan kata “pakai” atau tidak, sama saja maknanya.

Pengajar di Universitas Mataram, NTB,  itu melihat kata “pakai” merupakan kata pasif yang tidak mengubah makna kalimat jika ada atau tidak disertakan dalam kalimat.

“Tetap alat untuk membohongi itu adalah Surat Al-Maidah karena kalau bicara dibohongi, berarti ada alat yang digunakan untuk berbohong, ada yang dibohongi, ada yang berbohong,” jawab Mahyuni.

Pernyataan Mahyuni tersebut sama persis jika menyimak kembali ucapan Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Tengku Zulkarnain di acara Indonesia Lawyer Club (ILC) Oktober tahun lalu.

Tengku Zulkarnain

Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Tengku Zulkarnain

Dalam ILC bertajuk ‘Setelah Ahok Minta Maaf‘ yang ditayangkan TV One pada 11 Oktober 2016 itu, Tengku mengatakan bahwa ada dua konsekuensi hukum yang harus Ahok pikul setelah mengatakan ‘dibohongi pakai surat Al Maidah ayat 51’.

Pertama, kata Tengku, Ahok menuduh Surat Al Maidah ayat 51 itu alat melakukan kebohongan.

Yang kedua, lanjut Tengku, ulama-ulama yang mengajarkan Surat Al Maidah 51 kepada umat itu adalah pembohong.

Simak selengkapnya di video berikut:

Selanjutnya, Prof Mahyuni dalam sidang ke 10 kasus Ahok mengatakan, “Kata bohong itu sendiri, sebelum melihat konteks (kalimatnya), sudah negatif. Pasti ada sumber, ada yang dibohongi. Ada klaim bahwa orang menggunakan ini untuk membohongi. Jelas ada orang yang membohongi.”

Mahyuni mengaku telah melihat video pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang kini dipermasalahkan dan dianggap sebagai bentuk penodaan agama.

 

Artikel Lain