Kesehatan

Micin Bisa Bikin Bodoh? 4 Fakta Ini Membuktikan Kalau Itu Cuma Hoaks

Ada sebagian orang Indonesia yang menghindari MSG karena percaya bahwa penyedap rasa ini adalah ‘racun berbahaya’. Menurut mereka, tidak hanya bisa bikin bodoh, MSG juga bisa memicu kemandulan, obesitas, diabetes, sampai kanker.

Kalau memang MSG berbahaya, tapi kenapa peredarannya tetap diizinkan oleh badan makanan dan obat-obatan di Indonesia dan dunia?

Kalau MSG memang bikin bodoh, kenapa orang Jepang yang terkenal cerdas masih suka memakai MSG sebagai penyedap masakan?

Mari kita bedah apakah penyedap rasa ini memang benar-benar berbahaya seperti anggapan sebagian kalangan selama ini?

Ada berbagai makanan yang mengandung glutamat secara alami. Bahkan glutamat juga diproduksi oleh tubuh kita sendiri

Glutamat adalah asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh karena perannya dalam membentuk protein. Selain membantu pengiriman sinyal-sinyal dalam otak, glutamat juga membantu fokus, ingatan, serta konsentrasimu. Glutamat juga memudahkanmu dalam mempelajari hal-hal baru.

Selain itu, glutamat juga sebenarnya adalah penyedap rasa alami. Bahan makanan yang mengandung glutamat akan menyedapkan rasa bahan makanan lain yang dimasak secara bersamaan. Makanan berglutamat ini misalnya saja tomat, jamur, keju, daging dan kecap. Selain itu, glutamat juga diproduksi oleh tubuh kita sendiri, misalnya saja di dalam ASI.

Bedanya glutamat dengan MSG itu apa? MSG yang dijual di toko-toko itu bahan kimiawi buatan, ‘kan?

MSG adalah garam sodium dari asam glutamat. Memang, kristal putih MSG yang dijual sachetan itu pabrikan, tidak alami seperti glutamat dalam tomat atau jamur. Tapi jangan curiga dulu, tidak semua hal yang buatan pabrik itu buruk. Lagipula, tubuh kita sebenarnya tak bisa membedakan yang mana yang glutamat alami dan yang mana yang MSG. Efeknya terhadap tubuh kita sama, begitu pula proses tubuh dalam mencernanya.

MSG diproduksi dari tetes tebu atau tepung tapioka, bukan limbah beracun yang berbahaya. Produksinya sendiri dijalankan melalui fermentasi mikroba. Fermentasi dengan mikroba adalah metode yang umum digunakan untuk mengolah makanan seperti tempe, keju, dan tape. Jadi tenanglah karena dari segi produksi dan bahan baku, MSG itu tidak berbahaya.

Batas aman MSG adalah maksimal 6 gram per hari. Angka yang tinggi, mengingat konsumsi MSG orang Indonesia rata-rata hanya 0,65 gram per hari

Batas maksimal konsumsi MSG yang direkomendasikan WHO adalah 6 gram per hari. Sementara, Menkes RI merekomendasikan batas aman MSG sebanyak 5 gram. Rata-rata orang Indonesia hanya mengkonsumsi 0,65 gram MSG setiap harinya — sangat sedikit dibandingkan batas maksimal 5 atau 6 gram tersebut.

Jadi kita sebenarnya tidak perlu khawatir, karena kita MSG yang kita konsumsi kecil sekali.

Lebih lanjut lagi, Zulfikar Hermawan dari Zenius juga pernah mengadakan penelitian kecil-kecilan. Dari penelitian itu, ia menemukan bahwa kandungan MSG dalam semangkuk bakso kaki lima (di Bandung) rata-rata hanya sekitar 0,5 gram. Jumlah yang lagi-lagi tak ada apa-apanya dibandingkan batas maksimum konsumsi MSG yang 5 atau 6 gram.

Bagaimana bisa muncul mitos MSG berbahaya?

Sebenarnya ini gara-gara beberapa penelitian yang keabsahannya kurang bisa dipertanggungjawabkan.

Contohnya, ada penelitian di tahun 2002 di mana tikus-tikus percobaannya menjadi buta setelah disuntik MSG. Usut punya usut, dosis MSG yang disuntikkan ke tikus-tikus ini sangat tinggi, yaitu 20 gram/100 gram makanan tikus.

Ada juga penelitian tahun 1969 yang mengklaim bahwa MSG merusak jaringan otak. Lagi-lagi, MSG yang disuntikkan ke tikus-tikus percobaan oleh para peneliti sangat banyak: 4 gram/kg berat badan.

Sebagai perbandingan: jika batas aman konsumsi MSG untuk manusia adalah 6 gram, dan jika itu didasarkan pada asumsi bahwa manusia tersebut memiliki berat badan 50 kilogram, maka batas aman MSG per kg berat badannya adalah 0, 12 gram/kg. Kalau tikus-tikus itu dapet 4 gram/kg berat badan, ya wajar aja aktivitas otak mereka jadi abnormal.

“Sampai sekarang hubungan antara MSG dan kerusakan retina atau otak sama sekali tidak bisa dibuktikan,” kata Evan Dreyer, Harvard University.

Dikonsumsi secara wajar, MSG justru bisa memberi manfaat kesehatan

Pada tahun 2013, Liputan6 melansir berita bahwa rumah sakit akan menggantikan garam dalam makanan mereka dengan monosodium glutamat. Alasannya, MSG mengandung lebih sedikit natrium dibandingkan garam dapur biasa, menjadikannya penyedap rasa yang lebih aman untuk pasien pengidap hipertensi atau yang harus menghindari garam dalam dietnya.

Tapi ada juga seseorang yang mengaku alergi MSG. Begitu makan makanannya mengandung MSG, dia langsung mual, pusing, dan sakit perut.

Gejala ini dinamakan “Chinese Restaurant Syndrome” (CRS), karena dokter yang pertama kali memperkenalkannya mendapat gejala ini setelah kebetulan makan di restoran Cina. Tapi, dr. Ho Man Kwok yang pertama kali memperkenalkan istilah ini sebenarnya tidak mengidentifikasi MSG (atau bahan masakan apapun) sebagai penyebab CRS. Pun sampai sekarang belum ada bukti bahwa CRS adalah kondisi medis yang nyata atau hanya mitos semata.

Kisahnya berawal pada tahun 1962 silam, Robert Ho Man Kwok menulis surat kepada New England Journal of Medicine. Isinya menyatakan bahwa ia mengalami gejala aneh yang ia sebut sebagai “Chinese Restaurant Syndrome” setelah menikmati makanan China. Dia mengaku mengalami “mati rasa di bagian belakang leher yang menjalar ke lengan dan punggung,” diikuti dengan “rasa lemah dan palpitasi (denyut jantung dengan kecepatan abnormal).”

Berawal dari rumor “Chinese Restaurant Syndrome” itulah, MSG dengan rasa umami dituduh menyebabkan reaksi buruk bagi kesehatan. Mitos itu kemudian semakin berkembang dengan klaim lainnya, salah satu yang paling terkenal dapat membuat seseorang menjadi bodoh, bahkan sekarang ini dijadikan olokan.

Klaim negatif tentang MSG yang semakin deras membuat para ilmuwan melakukan studi untuk mempelajari lebih dalam tentang MSG.

Hasil studi mengungkapkan bahwa klaim MSG menyebabkan efek “Chinese Restaurant Syndrome” tidak benar.

Penemuan MSG

Sifat MSG yang dapat meningkatkan rasa pertama kali ditemukan pada 1908 oleh seorang ahli kimia Jepang Kikunae Ikeda. Profesor Ikeda kemudian mengajukan paten untuk memproduksi MSG di Tokyo, Jepang, tahun 1909 dengan mengusung merk Ajinomoto.

Kikunae Ikeda

Mitos tentang bahaya MSG yang berkembang di masyarakat dan bahkan tidak sedikit masyarakat yang anti-MSG disebabkan oleh mitos tersebut yang kadung dipercaya secara turun temurun, faktanya mitos itu tidak terbukti secara ilmiah dan banyak penelitian mengungkap bahwa MSG aman.

MSG tidak bikin bodoh, buta, atau kerusakan jaringan otak. MSG cuma penyedap rasa yang sering disalahpahami saja

Sekarang sudah jelas kan kalau bahaya MSG sebenarnya adalah mitos semata. Jadi kalau ada teman kamu yang kelewatan bodohnya, jangan salahkan MSG lagi ya — mungkin teman kamu memang lemah akal dan tulalit dari sananya? Hehe.

Tak perlu takut lagi pada isu kesehatan yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Faktanya, MSG memang hanya garam penyedap rasa, bukan racun penyebab penyakit mematikan sebagaimana yang selama ini kita percaya.

Mungkin Anda bertanya jika MSG aman mengapa banyak orang mengklaim mengalami efek buruk setelah mengkonsumsi makanan mengandung MSG. Dalam banyak kasus, itu hanya efek plasebo – efek yang dikontrol oleh kekuatan pikiran hingga membangkitkan sugesti bahwa apa yang dipikirkan benar terjadi.

Artikel ini sudah diterbitkan di Cowok.co

Komentar Facebook

You Might Also Like