DPR Minta Polisi Pasang Spanduk Larangan ‘Om Telolet Om’

by
Pemburu klakson bus telolet.
Pemburu klakson bus telolet. (Foto: merdeka.com/cahyo purnomo edi)

Jurnalindonesia.id – Demam berburu klakson bus dengan membawa tulisan ‘om telolet om’ tengah mewabah di Indonesia. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa berkumpul di pinggir jalan menunggu bus lewat dan meminta sopir membunyikan klakson dengan suara-suara unik.

Aksi tersebut direkam dan diunggah ke media sosial. Alhasil, demam ‘om telolet om’ mulai diperbincangkan para pesohor mulai dari artis, hingga pejabat negara di tanah air dan kancah internasional.

Anggota Komisi V Fraksi Gerindra Nizar Zahro menyarankan sopir bus tidak memodifikasi klakson yang menyalahi aturan. Nizar menilai aksi ‘om telotet om’ membahayakan keselamatan.

“Fenomena itu kita sarankan klakson tidak menyalahi terhadap peraturan dan membahayakan keselamatan bagi anak muda. Dan itu kebiasaan buruk yang tidak usah ditiru,” kata Nizar saat dihubungi, Kamis (22/12).

Dia menyarankan Polda di tiap daerah memasang spanduk larangan anak-anak berburu klakson. Alasannya, aktivitas ini mengganggu dan membahayakan.

“Kita memohon kepada polda agar memasang spanduk larangan terhadap anak-anak karena membahayakan keselamatan, karena ganggu,” jelasnya.

Sebelumnya, Meski tengah menjadi fenomena baru, bus dengan klakson modifikasi ‘Om Telolet Om’ tetap akan ditindak tegas. Sebab, klakson dengan bunyi-bunyian unik yang dipasang pada bus dan truk dinilai melanggar aturan lalu lintas.

Kasubdit Gakkum Dirlantas Polda Metro Jaya AKBP Budianto menegaskan melarang penggunaan klakson jenis itu, karena bisa mengganggu pengendara lainnya.

“Nanti orang akan kaget dong. Kan bunyinya sangat keras, sehingga konsentrasi pengendara akan hilang arah sehingga berpotensi menyebabkan kecelakaan,” kata Budianto di Jakarta, Rabu (21/12), demikian dikutip dari poldametrojaya.info.

AKBP Budianto menjelaskan, penggunaan klakson seperti itu sama saja dengan pemasangan sirine pada kendaraan non-operasional polisi.

“Modelnya sama. Masyarakat umum tak boleh menggunakan. Itu melanggar pasal 227 UU No 22 Tahun 2009 tentang angkutan jalan,” tutur Budianto.

AKBP Budianto sendiri menegaskan, akan menilang si pengemudi jika kedapatan menyembunyikan klakson seperti itu. “Ada tindakan penegakan hukum seperti tilang atau penyuluhan. Nanti tergantung kadar kesalahan saja,” tutup AKBP Budianto.

(noe/Merdeka.com)