Politik

Kisah Perang Antar Dukun di Pilkades Serentak

Aroma kemenyan (menyan) kuat menyengat dari sejumlah Desa di Cirebon yang menggelar Pemilihan Kepala Desa (pilkades) atau biasa disebut Pemilihan Kuwu (Pilwu). Hal tersebut lazim terjadi saat digelarnya demokrasi di level pemerintahan paling bawah itu.

Tak jarang para calon kuwu (kades) memasang dan menyalakan menyan, sejak H-1 sampai di hari pelaksanaan pencoblosan. Bahkan ada petugas khusus yang menjaga agar menyan itu tetap menyala dan tidak mati.

Tampak asap pekat ditambah bau kemenyan yang baunya sangat menyengat, hampir pasti kita jumpai di awal-awal saat menuju Tempat Pemungutan Suara (TPS) Pemilihan Kuwu di Kabupaten Cirebon.

Ternyata, asap dan bau yang menyengat tersebut berasal dari belakang maupun bawah panggung tempat calon kuwu dipajang.

Di belakang para calon, tampak orang-orang yang memang bertugas khusus untuk menjaga agar menyan ini tetap menyala dan tidak mati.

Menyan terus dinyalakan oleh para calon kuwu yang mengikuti Pilwu serentak. Meskipun tidak semua, namun hampir mayoritas calon kuwu di setiap desa di Kabupaten Cirebon, selalu menyalakan menyan saat pesta demokrasi tingkat desa tersebut.

Seperti yang terjadi saat pilwu serentak di Desa Pegagan Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon.

Seluruh calon kuwu yang mengikuti pilwu serentak menyalakan menyan sejak H-1 hingga pelaksanaan pilwu serentak. Ternyata, tradisi yang sudah melekat ini tidak bisa menggantikan menyan dengan yang lainnya, meskipun kemajuan zaman yang sudah sangat canggih.

Salah satu tokoh masyarakat Desa Pegagan Lor, Ronianto mengatakan, menyan merupakan tradisi yang sudah ratusan tahun dilakukan oleh para calon kuwu di Kabupaten Cirebon, khususnya di daerah Pantura.

“Ini sudah tradisi masyarakat yang sangat kental. Jadi, begitu pilwu akan digelar, maka calon kuwu langsung menyalakan menyan,” ujarnya kepada Radar Cirebon (JawaPos Group).

Roni mengatakan, para calon kuwu menyalakan menyan dengan berbagai tujuan. Biasanya malam sebelum pelaksanaan pilwu, para calon sudah menyalakan menyan di tempat pemungutan suara.

“Ajaibnya di situ akan bisa dilihat siapa yang menang. Siapa yang nyala menyannya paling banyak dan besar apinya, maka itu yang diprediksi menjadi pemenangnya,” tuturnya.

Selain itu, menurut Roni, menyan juga bisa dijadikan sarana untuk berdoa karena orang dulu sering menggunakan menyan sebagai sarana tambahan untuk berdoa kepada Allah.

Sementara itu, salah satu warga, Eman mengatakan, setiap calon kuwu yang menyalakan menyan siap-siap untuk merogoh kocek cukup banyak. Tidak tanggung-tanggung, calwu harus merogoh jutaan rupiah untuk menyewa orang “pintar”.

“Ya tradisinya begitu. Meski untuk nyewa orang pintar itu mahal, tapi demi keinginan menang, ya dijalani,” ungkapnya singkat.

Artikel ini sudah diterbitkan di Cowok.co

Komentar Facebook

You Might Also Like