Kriminal

Kejati Riau Dalami Dugaan Korupsi Proyek Revitalisasi Masjid Raya Pekanbaru

Masjid Raya Pekanbaru. (Foto: Chaidir Anwar T/detikcom)

Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau sedang mendalami adanya dugaan korupsi dalam proyek revitalisasi Masjid Raya Pekanbaru.

“Iya benar (dugaan korupsi). Kita lagi menyelidiki dana revitalisasi masjid raya yang terindikasi korupsi,” ujar Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Riau, Sugeng Riyanta kepada detikcom, Sabtu (2/9/2017).

Penyelidikan tersebut dilakukan setelah adanya laporan dari masyarakat.

“Kita menerima pengaduan masyarakat terkait dana APBD Riau yang gunakan dalam revitalisasi masjid tersebut. Dari laporan dugaan korupsi tersebut, kita pun melakukan penyelidikan,” imbuh Sugeng.

Dari penemuan sementara kejaksaan, menurut Sugeng, diperkirakan ada miliaran rupiah dana APBD Riau yang telah dikucurkan dalam proyek tersebut.

“Kalau tidak salah proyek itu sudah berjalan sejak tahun 2009 lalu. Dan tahun lalu dikabarkan dana masih dikucurkan,” kata Sugeng.

Sugeng menambahkan, hingga kini pihaknya masih terus mengumpulkan keterangan terkait dugaan korupsi tersebut.

“Sementara ini kita masih mengumpulkan keterangan dari pihak terkait. Penyelidikan dugaan korupsi itu masih terus dilakukan,” ujar Sugeng.

Sebelumnya revitalisasi Masjid Raya Pekanbaru juga sempat menuai polemik. Pasalnya, masjid peninggalan kesultanan Siak yang berusia lebih dari 250 tahun itu kini tidak lagi masuk dalam cagar budaya. Hal tersebut disebabkan tim revitalisasi merombak total bangunan masjid itu. Sehingga, dengan perombakan tersebut, menghilangkan bentuk aslinya

Sebelum direvitalisasi, Masjid Raya Pekanbaru masuk dalam cagar budaya yang ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2004 silam.

Tapi kemudian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mencabut status cagar budaya dan bangunan itu turun peringkat jadi struktur cagar budaya. Penurunan peringkat ini berdasarkan nomor surat 209/ M/ 2017 yang ditetapkan pada 3 Agustus 2017 oleh Mendikbud Muhadjir Effendy.

Untuk sekadar diketahui, Masjid Raya ini dibangun sekitar abad 18 atau sekitar tahun 1762. Masjid ini dulunya sudah pernah dipugar namun tanpa merombak keasliannya.

Penampakan Masjid Raya Pekanbaru yang tak lagi menjadi cagar budaya.

Penampakan Masjid Raya Pekanbaru yang tak lagi menjadi cagar budaya. (Foto: Chaidir/detikcom)

Sekitar tahun 2011, Pemprov Riau memutuskan melakukan revitalisasi. Dengan alasan, akan kembali menghidupkan suasana kejayaan kesultanan Siak. Salah satu revitalisasi yang dilakukan justru merombak seluruh bangunan masjid. Yang tersisa hanya tiang yang kini menjadi menara dalam masjid sejarah itu.

Sejak awal, pegiat cagar budaya sudah melayangkan protes atas revitalisasi tersebut. Protes keras ini, karena tim revitalisasi menghancurkan keaslian masjid tersebut.

Tapi waktu itu, Ketua Revitalisasi, Nasrun Efendi bersikukuh bahwa bangunan Masjid Raya bukan bagian dari cagar budaya. Nasrun mengklaim yang masuk dalam cagar budaya adalah makam para sultan.

Kini, ungkapan Ketua Tim Revitalisasi sudah terbantahkan. Kemendikbud telah menyebutkan bahwa Masjid Raya Pekanbaru adalah cagar budaya yang kini statusnya diturunkan menjadi struktur cagar budaya.

Terkait revitalisasi yang telah menghancurkan bangunan masjid sebagai cagar budaya, menurut Asisten Pidana Khusus (Aspidsus) Kejati Riau, Sugeng Riyanta, sebaiknya kasus penghancuran cagar budaya itu dilaporkan ke instansi lain.

“Kita hanya menangani dugaan korupsinya saja. Kalau masalah cagar budayanya, silahkan saja laporkan ke instansi lain, karena itu juga pidana,” kata Sugeng.

 

Artikel Lain