Kriminal

Dilaporkan ke Bareskrim oleh PP Muhammadiyah, Pendiri Seword.com Yakin Laporan Ditolak

Situs Seword.com dilaporkan ke bareskrim
Situs Seword.com dilaporkan ke bareskrim

Pemuda Muhammadiyah melaporkan situs Seword.com ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Selasa (10/10) malam. Mereka menilai, Seword.com merupakan situs penyebar kebencian dan hoax.

Selain ke polisi, PP Muhammadiyah juga melaporkan Seword.com ke Kementerian Komunikasi dan Informasi.

Menanggapi hal tersebut, pendiri sekaligus pemilik Seword.com Alifurrahman S Asyari mengakui bahwa situsnya pernah ‘kebobolan’ dan menayangkan konten ujaran kebencian.

Terbaru, ada sebuah artikel yang menyingkat nama gubernur dan wakil gubernur terpilih DKI Jakarta Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dengan sebutan ASU, yang merupakan bahasa Jawa dari kata ‘anjing’. Artikel tersebut juga disertai ilustrasi gambar anjing yang tengah menyalak.

Namun, Alifurrahman menilai, mestinya PP Pemuda Muhammadiyah melaporkan penulis artikel itu, bukan melaporkan dirinya.

“Kalau ada kontennya harusnya kan yang dilaporkan (penulis) kontennya. Kalau melaporkan saya kan enggak ada hubungannya,” kata Alif kepada Kompas.com, Rabu (11/10/2017).

Alif mengaku sudah menegur si penulis artikel. Ia juga sudah meminta konten yang dimaksud diubah atau dihapus.

Saat ini, tulisan yang dimaksud memang sudah dihapus.

Alifurrahman menegaskan bahwa Seword.com adalah situs yang menjadi wadah para penulis lepas untuk memuat tulisannya. Bagi penulis yang baru mendaftar akan dicek contoh tulisannya. Namun, setelah lolos, penulis bisa mengunggah langsung tulisannya.

“Kalau sudah diterima semuanya bisa tulis dan publish langsung. Sebab di Seword kan semua penulis bertanggung jawab atas tulisannya,” kata dia.

Alifurrahman pun meyakini laporan yang disampaikan PP Pemuda Muhammadiyah tidak akan diproses oleh Kemenkominfo atau pun Polri.

“Kalau saya liat, mereka lapor Kominfo ditolak, ke Bareskrim ditolak. Setau saya mereka ditolak semua karena tidak jelas laporannya,” ujarnya.

Pernah diundang ke istana

Dalam perbincangan dengan Kompas.com, Alifurrahman juga bicara soal situs Seword.com yang artikelnya banyak dianggap berpihak kepada Presiden Joko Widodo. Ia menegaskan anggapan tersebut tidak benar.

“Arah kami sebenarnya umum, semua orang bisa menulis. Orang terserah mau nulis apa saja. Dan yang mengkritik Jokowi banyak,” kata dia.

Alifurrahman mengakui ia pernah diundang Presiden Jokowi ke Istana pada 2015 lalu. Ia diundang bersama sejumlah penulis sebuah platform blog. Foto dengan Jokowi pun ia pajang di profil WhatsApp-nya.

“Oh itu udah lama, tahun 2015,” ujarnya.

Sebelumnya, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah melaporkan situs Seword.com ke Badan Reserse Kriminal Polri dan Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Laporan disampaikan pada Selasa (10/10/2017) sore oleh Ketua Bidang Infokomtel PP Pemuda Muhammadiyah Siswanto Rawali.

“Situs tersebut kami nilai sebagai salah satu produsen hoaks selama ini,” ujar Siswanto, Selasa malam.

“Terbukti dari postingan-postingan opini yang dimuat merupakan tulisan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kevalidannya. Lebih bersifat tendensius, menyebar kebencian dan memancing provokasi bernuansa SARA,” lanjut dia.

Ada dua pihak yang dilaporkan. Pertama, adalah pemilik situs Seword.com. Kedua, adalah penulis opini dengan konten yang dinilai bermuatan tendensius dan mengandung provokasi SARA. Dua pihak tersebut diduga melanggar Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, tepatnya Pasal 27 ayat 3 dan Pasal 28 ayat 2.

“Kita datang ke Bareskrim ini untuk melaporkan supaya pemilik dari media ini diproses,” kata Siswanto.

Unggahan konten Seword dinilai sangat tendensius terhadap kelompok masyarakat tertentu. Terutama, konten mengenai ormas Islam dinilai sangat tidak objektif.

“Kalau dari segi kita memperhatikan kaidah penulisan jurnalistik saya kira sangat jauh dari kaidah-kaidah jurnalistik ini,” tegasnya.

Pihaknya berharap, pemerintah dapat menciptakan dunia komunikasi informasi yang sehat dan bertanggung jawab. Tujuan ini dinilainya dapat dirusak oleh media-media seperti Seword.com.

“Kita lihat di situs Kominfo sudah pernah dimuat bahwa media ini adalah media abal-abal (palsu) itu artinya kalau sudah tahu media abal-abal,” katanya.

Dalam pelaporannya, PP Pemuda Muhammadiyah turut membawa bukti sejumlah berkas yang menunjukkan bahwa Seword.com telah menyebarkan kebencian di dunia maya.

loading...


Artikel Lain