Kriminal

Difitnah Sebagai ‘Tim Buzzer Penista Agama’, Wartawan Foto Laporkan Eko ke Polisi

pewarta foto
Sejumlah pewarta foto mengadukan pemilik akun Facebook Eko Prasetia ke polisi atas ujaran kebencian dan berita hoax yang disebarkannya lewat Facebook. (Foto: Tribunnews.com)

Jurnalindonesia.id – Pewarta Foto Indoenesia (PFI) melaporkan akun facebook Eko Prasetia karena telah menyebarkan foto yang disertai keterangan tanpa dasar (fitnah).

Foto yang Eko unggah tersebut sejatinya adalah wartawan foto yang sedang duduk di trotoar di sela peliputan sidang dugaan penistaan agama Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Namun Eko membubuhi keterangan yang bernada menghina dan memancing kebencian.

“Tim cyber/buzzer penista agama yang malu dan takut ketahuan tampangnya untuk dipublikasikan, turut hadir di persidangan ini. Udah seperti PSK asal China kelakuannya mereka, pake tutupin muka segala,” tulis Eko.

FItnah yang Eko sebarkan lewat media sosial Facebook.

FItnah yang Eko sebarkan lewat media sosial Facebook.

Foto tersebut sempat viral di medsos hingga dibagikan oleh lebih dari 2.000 akun.

Atas perbuatan itu kemudian sejumlah pewarta foto mendatangi SPKT Polda Metro Jaya, Semanggi, Jakarta Selatan, Rabu (11/1/2017) untuk melaporkan perbuatan Eko tersebut.

Ketua PFI Lucky C Pransiska bersama pewarta foto lainnya melaporkan pemilik akun facebook bernama Eko Prasetia karena telah menyebarkan berita hoax. Adapun laporannya itu telah diterima polisi dengan nomor LP TBL/147/I/2017/PMJ/ Ditreskrimsus.

Adapun pemilik akun facebook bernama Eko Prasetia itu dilaporkan dengan pasal berlapis, yakni pasal 310 KUHP, dan pasal 311 KUHP, dan pasal 27 ayat 3 UU RI No. 19 tahun 2016 tentang ITE.

“Kami baru tahu Selasa, 10 Januari kemarin sore tentang foto yang viral itu. Lalu saya konfirmasi ke teman-teman pewarta, mereka bilang iyah itu yang di foto temen-temen pewarta sedang menunggu sidang (Ahok) di Kementan, Pasming, Jaksel,” kata Lucky kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya.

Kronologis pengambilan foto

Foto tersebut diambil pada sidang dugaan kasus penistaan agama yang keempat kalinya, yakni Selasa, 3 Januari 2017 lalu.

Saat itu, pewarta yang tengah meliput dan menantikan persidangan sambil duduk-duduk. Tiba-tiba saja, ada seorang pria yang memfotonya secara mendadak.

“Ada pria melewati mereka, lalu balik lagi sambil berkata, ini tinggal wartawan nih yang belum difoto. Lantas, pria itu mengeluarkan handphonenya dan memotret teman-teman pewarta,” tutur Lucky.

Saat difoto itu, pewarta tak mempermasalahkannya. Namun yang menjadi soal, saat foto tersebut diunggah ke medsos dan diberi komen negatif yang seolah menggambarkan pewarta saat meliput sidang itu memihak kelompok tertentu.

“Foto itu diberikan konteks negatif dengan menyebut kami adalah tim buzzer atau cybernya penista agama. Kami tegaskan, kami tak pernah mendukung pihak manapun dan kami tidak dalam posisi untuk berafiliasi atau berkaitan dengan pihak manapun,” terang Lucky.

Selain itu, pewarta foto juga disamakan dengan Pekerja Seks Komersial. Hal itu sangat merendahkan profesi wartawan yang dilindungi Undang-Undang Pers.

“Kedua, kami disamakan seperti PSK (Pekerja Seks Komersial) yang seolah-olah profesinya sangat rendah,” imbuhnya.

Saat tahu adanya berita hoax itu, beber Lucky, PFI pun membuat surat terbuka dan mengumumkannya ke medsos.

Berikut ini isi surat terbuka tersebut :

Surat terbuka untuk Eko Prasetia

Selamat sore mas Eko Prasetia. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan jasmani, rohani dan kesehatan berfikir kepada anda.

Sore ini kami mendapati sebuah foto yang anda unggah di halaman Facebook melalui akun anda tanggal 3 Januari 2017.

Sebuah foto yang sengaja anda ambil menggunakan telepon pintar untuk memotret kami yang tengah menunggu proses persidangan berlangsung. Foto itu anda lengkapi dengan keterangan foto sebagi berikut “Tim cyber/buzzer penista agama yang malu dan takut ketahuan tampangnya untuk dipublikasikan, turut hadir dipersidangan hari ini. Udah seperti PSK asal China kelakuan mereka, pake tutupin muka segala”.

Kami berusaha memaafkan dan memaklumi kata-kata kotor anda yang sudah menghakimi kami, melecehkan profesi kami, menyakiti perasaan kami.

Baiklah, mungkin anda tidak kenal kami, anda juga tidak mengerti pekerjaan kami. Anda juga tidak merasakan kelelahan kami.

Mungkin anda terlalu sibuk mengikuti kata hati anda yang sedang dibalut kebencian yang sangat. Anda juga mungkin terlalu sibuk mengais kemarahan untuk anda umbar ke jagat maya. Sehingga anda buta dan leluasa menghakimi kami seperti apa kehendak hati anda.

Mas Eko, anda dengan sadar dan sengaja mengangkat telepon anda dan mengarahkan kameranya kepada kami.

Anda sadar betul kami ini wartawan, oleh karenanya anda memang sengaja memotret kami.

Mas Eko, kami ini awak media, kami adalah jurnalis foto yang setiap hari bekerja mengabadikan peristiwa dengan kamera.

Tugas kami menyampaikan berita melalui gambar.

Kedatangan kami ke persidangan adalah murni karena tugas jurnalistik.

Terlepas dari siapa yang sedang berperkara dalam persidangan, sejauh itu suatu peristiwa penting yang layak diketahui masyarakat luas.

Dipastikan kami akan ada dan hadir mengabadikan peristiwa tersebut dimana dan kapan pun itu.

Anda mungkin tidak pernah tau bagaimana kesulitan kami. Ya karena kami tidak mau mengeluh, kami bekerja karena kami mencintai profesi kami. 

Mas Eko yang kami hormati, perkataan anda yang mengatakan kami tim cyber/buzzer penista agama sangat merendahkan profesi kami.

Anda menyamakan profesi kami sama dengan PSK. Sebegitu kronis kebencian anda hingga menyebarkan fitnah dan menyerang kami.

Sehat mas Eko? Kami mendoakan anda selalu dalam keadaan sehat mental dan fisik.

Ingin sekali kami marah, melaporkan anda ke Polisi dan melihat anda duduk di kursi pesakitan lalu kami arahkan semua kamera kami menyoroti wajah anda.

Lalu kami sebarkan fotonya dengan kata-kata yang sama seperti kata-kata kotor yang anda lemparkan kepada kami.

“Inilah penyebar fitnah menutupi wajahnya seperti PSK asal China karena malu diberitakan di media masa dan diunggah media sosial”.

Bagaimana perasaan anda mas Eko? Jika anda tidak tersinggung, kami ragu anda punya nurani.

Sebaiknya ada segera berkonsultasi dengan psikolog terdekat.

Mas Eko profesi kami dilindungi Undang-undang pers.

Langkah dan gerak kami dipagari kode etik jurnalistik. Kami tidak bergerak sebebas pikiran dan hati anda.

Sebagai jurnalis, kami punya tanggungjawab sosial yang besar.

Terlebih masyarakat sekarang begitu kritis dan cerdas. Kami dituntut sangat berhati-hati menyampaikan informasi.

Kami ini adalah garda terdepan dalam industri media, kami bukan pembuat kebijakan, kami juga bukan pengambil keputusan, kami tidak memiliki kekuatan membuat suatu sikap keberpihakan.

Mas Eko kami hanya ingin melihat sikap kesatria anda sebagai seorang laki-laki. Kami ingin melihat keberanian anda untuk bertanggungjawab atas semua perbuatan dan ucapan anda yang sudah melukai kami.

Kami tidak ingin menodai hati kami dengan kebencian, kami tidak ingin mengotori pikirian kami dengan amarah.

Kami serahkan semua persoalan ini kepada pihak yang berkompeten untuk diselesaikan.

Semoga Tuhan memaafkan kita semua. Amin

Pewarta Foto Indonesia

Namun, hingga tengah malam, tidak ada tanggapan dari Eko. Bahkan, akunnya mendadak di-nonaktifkan di mesin pencarian.

Baru pada Rabu (11/1/2017) pagi, Eko Prasetia melalui akun facebooknya mengirimkan pesan meminta maaf.

Dia pun menjabarkan, kalau permintaan maafnya itu keliru karena seharusnya dilakukan di timeline facebooknya, di halaman yang sama saat dia membuat berita hoax itu sebagai klarifikasi.

Faktanya, akun facebooknya itu sudah bersih dari segala macam timeline yang telah dibuatnya itu.

“Kami ingin tahu, foto ini bersumber dari siapa pertama kali, dari mana, dan apa motivasinya memberikan konteks negatif itu. Apalagi, foto itu sudah tersebar sampai ke 2.029 orang,” ucapnya.

Permintaan maaf dari Eko Prasetia

Permintaan maaf dari Eko Prasetia

Sementara Kapolda Metro Jaya, Irjen Mochammad Iriawan mengaku akan menindaklanjuti laporan itu. Pihak Ditreskrimsus Polda Metro Jaya akan menyelidiki kasus tersebut.

“Lagi didalami cyber crime. Sedang ditindaklanjuti,” ucapnya.

 

Artikel Lain