Kriminal, Nasional

Diduga Melakukan pembunuhan Berencana dan Penipuan, Polda Jatim gerebek Padepokan Kanjeng Dimas

penggerebekan padepokan kanjeng dimas
Susana penggerebekan Padepokan Dimas Kanjeng di Kabupaten Probolinggo. Sekitar 600 pasukan gabungan diterjunkan.

Jurnalindonesia.id – Jajaran Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur menggerebek Padepokan Kanjeng Dimas di Probolinggo, Jawa Timur, untuk menangkap pemiliknya, Taat Pribadi (46), yang diduga terlibat dalam pembunuhan berencana terhadap mantan santrinya.

Penggerebekan tersebut melibatkan sekitar 2.000 personel gabungan polisi dan TNI.

Para petugas menaiki puluhan kendaraan mengenakan rompi anti peluru dan bersenjata lengkap. Kendaraan barakuda, mobil taktis, water canon dan truk polisi juga berada di lokasi.

Para santri sempat berupaya mencegah penangkapan oleh polisi. Namun polisi bersikap tegas. Polisi lalu mendobrak pintu rumah Kanjeng. Polisi tak menemukan Kanjeng.

Setelah melakukan pencarian, Kanjeng yang mengenakan kaos ungu ditemukan di sekitar masjid padepokan. Kemudian Kanjeng digelandang ke mobil barakuda dan dibawa ke Markas Polda Jatim di Surabaya.

Kabid Humas Polda Jatim Kombes Argo Yuwono mengatakan, Dimas Kanjeng dijemput paksa lantaran dipanggil tiga kali selalu mangkir. Dimas resmi menjadi tersangka kasus pembunuhan dan diduga menjadi otak pelaku. Yang bersangkutan juga jadi DPO Polda Jatim.

“Ya terpaksa kami jemput paksa. Dia diduga menjadi otak pembunuhan Abdul Gani, warga Semampir, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo. Dan Ismail, warga Kabupaten Situbondo. Ancaman hukumannya 15 tahun penjara dan bisa juga hukuman mati. Abdul Gani dan Ismail pernah jadi santri padepokan,” kata Argo.

Sejauh ini, lanjut Argo, polisi fokus pada kasus pembunuhan. Terkait laporan penipuan dan laporan lainnya, polisi melakukan pengembangan.

Argo menjelaskan ratusan personel Brimob Polda Jatim yang juga didukung personel dari Polres Probolinggo dan sekitarnya serta TNI itu dipimpin langsung oleh Wakapolda Jatim Brigjen Pol Drs Gatot Subroto, karena tersangka Taat Pribadi itu mempunyai banyak pengikut.

“Tersangka pemilik Padepokan Kanjeng Dimas itu ditangkap berdasarkan laporan polisi di Probolinggo pada 6 Juli 2016, karena dia diduga terlibat dalam perencanaan pembunuhan terhadap dua santrinya yakni Abdul Gani dan Ismail,” katanya.

Dalam pembunuhan itu, tersangka Taat Pribadi memerintahkan anak buahnya bernama Wahyu untuk menghabisi Abdul Gani dan Ismail, karena kedua santrinya itu berencana membongkar mengenai penggandaan uang yang dilakukan sang guru.

“Polda Jatim pun mengeluarkan surat DPO (Daftar Pencarian Orang) untuk tersangka Taat Pribadi, karena Taat berulangkali dipanggil penyidik Polda Jatim juga tidak mau datang, sehingga padepokan miliknya itu digerebek dan tersangka bersama tangan kanan-nya, yakni Safii, ditangkap,” katanya.

taat

Pimpinan Padepokan Kanjeng Dimas, Taat Pribadi (46)

Kini, keduanya diperiksa di ruangan antiteror Ditreskrimum Polda Jatim untuk menjalani pemeriksaan oleh penyidik. “Tersangka saat ini sedang diperiksa sebagai otak pembunuhan, karena sudah ada 11 tersangka yang sudah ditangkap,” katanya.

Tersangka ditangkap pada 22 September 2016 pukul 01.00 WIB hingga 08.30 WIB dengan melibatkan enam SSK Satuan Brimob Polda Jatim serta didukung personel Sabhara dari Polres Jember, Polres Madiun, Polres Sidoarjo, Polres Malang, Polres Bojonegoro, dan Polres Probolinggo.

Selain Wakapolda Jatim, penggerebekan padepokan yang pernah dikunjungi sejumlah tokoh nasional itu juga diikuti Kasat Brimobda Jatim Kombes Pol Rudi Kristianto, Kapolres Probolinggo AKBP Arman Asmara Syarifuddin, dan Dandim 0820/Probolinggo Letkol Inf. Hendhi Yustian Danang Suta.

Kasus penggandaan uang

“Soal penggandaan uang masih didalami, kita fokus pada kasus utamanya dulu,” kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Raden Prabowo, Argo Yuwono, Kamis (22/9/2016).

Sri Raja Anom Rajasa Nagara saat hendak melantik Tim Sultan Padepokan Kanjeng Dimas. (foto: andi sirajuddin/ BANGSAONLINE)

Sri Raja Anom Rajasa Nagara saat hendak melantik Tim Sultan Padepokan Kanjeng Dimas. (foto: andi sirajuddin/ BANGSAONLINE)

Dia menduga, praktik penggandaan uang yang dilakukan pria 47 tahun itu masih berlangsung hingga saat ini, karena saat penangkapan tadi, di sekitar padepokan banyak pasien yang mengaku antre dipanggil Kanjeng Dimas.

“Mereka ada di tenda-tenda yang disediakan di sekitar padepokan,” ucapnya.

Argo yang juga ikut dalam aksi penangkapan pagi tadi mengatakan, para pasien itu rela menunggu lama untuk dipanggil dalam urusan penggandaan uang.

“Berbulan-bulan, ada yang mengaku sudah menunggu enam bulan di sana,” kata Argo. (Antara)

 

Komentar Facebook

Lainnya