Nasional

Aa Gym & Rizieq Lebih Jadi Panutan Dibandingkan Ulama NU dan Muhammadiyah

Survei yang dirilis Alvara Research Center mendapati hasil bahwa kalangan kelas menengah seperti pegawai negeri sipil (PNS), karyawan BUMN, dan profesional swasta lebih memilih para dai populer dibandingkan ulama senior sebagai panutan. Bahkan, Rizieq Shihab lebih banyak dianut daripada sejumlah ulama senior seperti Quraish Shihab, Mustofa Bisri (Gus Mus), dan Ma’ruf Amin.

Rizieq dipilih 13,6% responden dan berada di urutan tiga setelah Mamah Dedeh dan Abdullah Gymnastiar (AA Gym) yang menjadi panutan masing-masing 25,3% dan 17,6% responden.

Untuk penilaian kategori kedalaman ilmu, Quraish berada di posisi ketiga setelah AA Gym dan Mamah Dedeh. Rizieq sendiri berada di urutan ke-11.

Secara umum, AA Gym merupakan dai paling populer di kalangan kelas menengah, disusul Arifin Ilham dan Yusuf Mansyur. Berikutnya adalah Mamah Dedeh, Soleh Mahmud, Maulana, Quraish Shihab, Rizieq, hingga Felix Siauw.

Direktur Alvaro Research Center (ARC) Hasanuddin Ali mengungkapkan anjloknya pamor para ulama senior disebabkan mereka kurang aktif di medium komunikasi populer seperti media sosial dan televisi. Sayangnya, kedua panggung tersebut lebih banyak diisi sosok baru yang kedalaman ilmu agamanya di bawah ulama senior.

“Media sosial bisa diisi oleh apapun dan siapapun. Tapi sekarang dikuasai kelompok yang dianggap tak moderat,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (23/10/2017).

Ali pun mendorong ormas Islam moderat seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah lebih giat menghasilkan dai-dai muda yang ramah media sosial. Dengan demikian, mayoritas pengakses internet tidak mudah dipengaruhi oleh ajaran radikal.

“Jangan sampai ulama-ulama senior seperti Quraish Shihab atau Ahmad Syafii Maarif malah bertarung di medsos,” katanya.

Menanggapi riset tersebut, Sekretaris Majelis Hukum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fajar Riza Ul Haq mengaku terkejut karena ulama otoritatif seperti Quraish bukan panutan utama. Padahal, mayoritas responden terafiliasi dengan NU dan Muhammadiyah.

“Seharusnya kan yang jadi panutan dari dua ormas itu. Tapi kok malah Mamah Dedeh, AA Gym, atau Rizieq yang ilmunya bak bumi dan langit dengan Quraish?” kata Fajar dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (23/10/2017).

Fajar menilai fenomena tersebut dipengaruhi oleh media khususnya televisi yang lebih gandrung pada dai-dai muda. Selain itu, dia juga tidak memungkiri bahwa ormas moderat lebih lambat melahirkan mubaligh baru yang lebih komunikatif.

“Regenerasi di Muhammadiyah tak bagus juga. Rata-rata mubaligh di atas 30 tahun, jarang yang ada di bawah umur itu,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Kajian Pengembangan SDM (Lakpesdam) Pengurus Besar NU Rumadi Ahmad mengamati saat ini telah terjadi pergeseran paradigma dalam memandang ulama. Dahulu, kata dia, seorang kiai dianggap otoritatif bila memiliki rekam jejak dan bidang keilmuan tertentu.

“Tapi kini, para dai datang entah dari mana, apakah baik atau tidak, tiba-tiba menjadi rujukan keagamaan,” kata dia.

Adapun Survei ARC tersebut dilakukan terhadap 1.200 responden kelas menengah, beragama Islam, di enam kota besar yakni Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar. Jumlah responden PNS sebanyak 300 orang, karyawan BUMN 500 orang, dan swasta 400 orang.

Tanya-jawab dilakukan dengan wawancara tatap muka sepanjang 10 September-5 Oktober 2017. Mayoritas responden berasal dari generasi milenial berusia 31-35 tahun (67,4%) dan telah menikah (83%) serta berpendidikan sarjana (82,4%). Marjin kesalahan dalam survei sebesar 2,8%.

Komentar Facebook

You Might Also Like