Ekonomi dan Bisnis

2 Tahun Jokowi, Lebih dari 2.500 Km Jalan Trans Papua Sudah Tersambung

Foto: Dok. Kementerian PUPR

Jurnalindonesia.id – Kepala Balai Besar Pelaksaan Jalan XVIII Papua dan Papua Barat, Osman Marbun mengatakan pembangunan jalan trans Papua sepanjang 3.259 km saat ini sudah mencapai 86%. Dan yang belum tersambung hanya tinggal sepanjang 667 km atau 14%.

Ditargetkan, proyek yang dikerjakan Balai Besar Pelaksana Jalan Wilayah XVIII Papua tersebut akan tersambung sepenuhnya dan bisa berfungsi pada 2018 mendatang.

“Kami menargetkan tahun 2018 seluruh jalan trans Papua ini sudah tersambung,” kata Osman Marbun, dilansir dari detikFinance di Jayapura, Minggu (5/2/2017).

Jalan trans Papua yang belum tersambung adalah di wilayah Papua Barat menuju Nabire sepanjang 67 km, Enarotali – Wagete – Timika sepanjang 6,5 km, kemudian dari Wamena – Elelim – Jayapura sepanjang 61 km, Kenyam – Dekai sepanjang 151 km.

Selain jalan trans Papua , Balai Besar PUPR juga membangun jalan lintas perbatasan negara RI- PNG sepanjang 1.097 km (dari Jayapura – Merauke), namun sepanjang 213 km belum tersambung yakni ruas jalan Jayapura – Oksibil – Iyur – Maropko – Tanah Merah – Merauke. Selain pembangunan jalan yang belum selesai dikerjakan ada 55 jembatan yang masih hambatan seperti dari Wamena – Mumugu ada 35 jembatan.

Lebih jauh Osman marbun menjelaskan, tentang segmen pembangunan jalan trans Papua yang diharapkan pada tahun 2018 sudah akan tersambung yaitu Segmen 1. Ruas jalan Nabire – Batas Papua Barat, 2. Ruas jalan Nabire – enarotali , 3. Ruas jalan Ernarotali – Mulia – Wamena. 4. Ruas jalan Jayapura – Wamena. 5. Ruas jalan Wamena – Mumugu. 6 ruas jalan Kenyam – dekai, 7. Ruas jalan Dekai – Oksibil, 8 . Ruas jalan Oksibil – Waropko. 9. Ruas jalan Waropko – Tanah Merah – Merauke, dan Segmen 10. Ruas jalan Wagete – Timika.

“Lintas perbatasan RI-PNG yakni dari Jayapura hingga Merauke itu juga sudah ada jalan trans Papua yakni dari Jayapura – Yetti dan dari Boven Digoel – Merauke,” tegasnya.

Ruas batas Kab. Boven Digoel/Merauke-Muting. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Ruas batas Kab. Boven Digoel/Merauke-Muting. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Disamping trans Papua juga menangani lintas Utara yakni dari Jayapira – Sarmi – Wapoga – Nabire, namun ruas ini tidak disebut sebagai jalan trans Papua tetapi disebut jalan nasional. Sarmi – Otawa sepajan 435 km. Kemudian ruas jalan Otawa – Nabire sepanjang 289 km. Lintas tengah Nabire – Wamena, lintas Timur Wamena – Jayapura dan lintas Selatan Wamena – Merauke.

“Semua pembangunan jalan trans Papua akan dituntaskan hingga tahun 2018,” katanya.

Osman menyatakan sulitnya pembangunan jalan trans Papua tersebut di antaranya medan dimana jalan yang dibangun melalui gunung yang cukup tinggi dan lembah termasuk daerah rawa, kemudian pekerja diperhadapkan dengan iklim (cuaca) menyebabkan waktu pekerjaan tidak bisa maksimal dimana seharusnya 7-8 jam kerja sehari tetapi akibat cuaca hanya bisa kerja beberapa jam saja. Selain itu adanya hutan lindung yang dilalui jalan tersebut, sehingga harus menunggu ijin pakai kawasan dari Kementerian Kehutaan.

Ruas Getentiri-batas Kab. Merauke/Boven Digoel. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Ruas Getentiri-batas Kab. Merauke/Boven Digoel. (Foto: Dok. Kementerian PUPR)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan meninjau ruas jalan Wamena – Habema karena ruas jalan tersebut merupakan pintu gerbang ekonomi wilayah Pengunungan tengah. “Ruas jalan ini merupakan salah satu alternatif membuka isolasi derah Pengunungan Papua, karena ruas jalanya jauh lebih pendek dibanding ruas jalan Jayapura – Wamena sepanjang 580 km sedangkan Wamena – Mumugu hanya sepanjang 284 km. Jadi ruas jalan itu hanya setengahnya,” ujar Osman.

Saat ini kata dia, ruas jalan Wamena – Mumugu sudah tembus namun kondisi jalan masih jalan sirtu, baru 7 km yang sudah diaspal, namun sudah bisa dilalui kenderaan roda empat. Dengan panjang jalan 90 km sudah bisa dijangkau dengan beberapa jam, yang sebelum ada jalan tersebut masyarakat harus berjalan kaki ke Wamena 4 hari.

“Kita harapkan dengan akses darat dari Wamen sampai Mumugu, perekonomian masyarakat akan semakin meningkat karena jarak lebih ekonomis dari Mumugu ke Wamena, hanya saja harus ada pelabuhan besar di Mamugu, sehingga barang kebutuhan untuk wilayah Pengunungan Tengah Papua bisa diangkur dari sana,” tandasnya.

 

Artikel Lain